Ziarah Makam Pejuang menjadi pembuka rangkaian Hari Jadi ke-242 Kota Tanjungpinang yang diperingati pada awal Januari 2026. Wali Kota Lis Darmansyah bersama Wakil Wali Kota Raja Ariza memimpin rombongan ziarah pada Senin, 5 Januari, dengan suasana khidmat dan tertib. Pemerintah kota menilai ziarah sebagai cara menguatkan ingatan kolektif sekaligus menyatukan warga menjelang puncak peringatan.
Dalam kegiatan itu, rombongan melaksanakan tahlil, doa, dan tabur bunga di sejumlah lokasi makam tokoh penting. Pesan “jas merah” kembali ditegaskan agar generasi sekarang tidak melupakan sejarah dan jasa para pendahulu. Di saat yang sama, peringatan dibuat sederhana dan lebih menekankan doa serta kepedulian sosial.
Ziarah juga menjadi ruang refleksi atas arah pembangunan kota yang terus tumbuh sebagai pusat pemerintahan dan budaya Melayu di Kepulauan Riau. Pemko berharap momentum ini mendorong warga menjaga ketertiban, merawat tradisi, dan memperkuat gotong royong di lingkungan masing-masing. Langkah ini disebut sekaligus mengajak masyarakat menengok akar kota sebelum melangkah lebih jauh.
Rute Ziarah hingga Pulau Penyengat
Rute ziarah dimulai dari Makam Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah di kawasan Kampung Melayu Km 6, Kelurahan Melayu Kota Piring. Setelah doa bersama, rombongan melanjutkan penghormatan ke makam tokoh-tokoh yang disebut berpengaruh dalam pembentukan pemerintahan Melayu dan perkembangan kota. Pemko menilai Ziarah Makam Pejujuang ini sebagai pengingat bahwa Tanjungpinang dibangun dari kerja panjang lintas generasi.
Dari daratan utama, rombongan bergerak ke sejumlah titik lain seperti Makam Daeng Marewa dan Makam Daeng Celak. Di setiap lokasi, prosesi dilakukan singkat namun tertib, dengan tahlil, pembacaan doa, dan tabur bunga. Aparatur daerah, tokoh masyarakat, serta unsur pendamping lain diimbau menjaga adab, tidak berkerumun, dan menghormati warga sekitar. Petugas juga mengatur alur rombongan agar tidak mengganggu lalu lintas dan aktivitas warga sekitar lokasi.
Perjalanan berlanjut ke Pulau Penyengat, yang kerap dikaitkan dengan pusat kebudayaan Melayu dan jejak para intelektual. Di sana, rombongan menziarahi makam Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali Haji, serta Engku Putri Raja Hamidah, sambil mengingat kontribusi mereka pada sejarah daerah. Pesan “jas merah” ditegaskan lagi agar peringatan tidak berhenti pada seremoni, melainkan menumbuhkan rasa tanggung jawab. Pemko berharap Ziarah Makam Pejuang ikut memantik kepedulian warga untuk merawat situs sejarah, menjaga kebersihan kawasan makam, memperbaiki akses lingkungan, serta meneruskan tradisi doa yang menghimpun persaudaraan.
Pemko menekankan bahwa ziarah bukan sekadar agenda simbolik, melainkan bagian dari pembentukan karakter kota. Setelah Ziarah Makam Pejuang, pemerintah mengarahkan peringatan Hari Jadi ke-242 berjalan sederhana dan mengutamakan doa. Penekanan ini dinilai relevan saat sebagian wilayah Indonesia menghadapi bencana dan membutuhkan empati bersama. Di tingkat komunitas, banyak warga memanfaatkan momentum ini untuk mengajak keluarga berziarah, belajar sejarah lokal, dan menebar pesan positif tentang kota melalui percakapan di lingkungan masing-masing serta aksi gotong royong.
Baca juga : Haul Istighasah Tanjungpinang Warnai Milad Ke-242 Kota
Pada Selasa, 6 Januari 2026, upacara peringatan digelar di halaman Kantor Wali Kota dengan peserta internal perangkat daerah. Malam harinya, masyarakat diundang mengikuti haul dan istighotsah di Masjid Al Uswah, Jalan D.I. Panjaitan Km 10, dimulai setelah Salat Isya berjamaah. Panitia mengajak jamaah menjaga ketertiban, membawa perlengkapan ibadah seperlunya, serta menata parkir agar lalu lintas lancar. Dalam kegiatan itu, warga juga didorong berbagi infaq dan sedekah sebagai wujud solidaritas.
Rangkaian kemudian ditutup dengan Salat Tasbih berjamaah pada Rabu pagi di Masjid Al Furqan, Jalan Pemuda. Pemko berharap nilai yang muncul dari Ziarah Makam Pejuang dapat diteruskan dalam tindakan sehari-hari, mulai dari merawat kebersihan lingkungan hingga menghormati ruang publik. Dengan cara itu, tema berbenah hati, membangun budi, serta melestarikan budaya dan tradisi diharapkan terasa nyata di tengah masyarakat.







