
Pilihan “smart ring atau smartwatch” sering ditentukan oleh satu hal: seberapa bisa perangkat itu dipercaya untuk memantau kesehatan harian. Jawabannya bergantung pada situasi pemakaian. Saat istirahat dan tidur, sinyal sensor cenderung lebih stabil. Saat bergerak intens, sinyal lebih mudah “kotor” oleh gerakan, keringat, dan posisi perangkat yang berubah.
Perbandingan cepat: smart ring vs smartwatch
| Kebutuhan | Smart Ring | Smartwatch |
|---|---|---|
| Tidur (sleep tracking) | Sangat nyaman dipakai tidur; kepatuhan pakai tinggi | Bisa akurat, tetapi ada yang tidak nyaman tidur memakai jam |
| Detak jantung saat istirahat | Umumnya stabil | Umumnya stabil |
| HRV (recovery/stres) | Kuat untuk tren malam (minim gerak) | Kuat, sering terhubung ke latihan & ringkasan kebugaran |
| SpO2 (umumnya malam) | Tersedia pada sebagian model; hasil bisa bervariasi | Lebih banyak pilihan perangkat; hasil juga bisa bervariasi |
| Olahraga intens | Kurang ideal untuk data real-time | Lebih ideal: tampilan, mode olahraga, GPS (pada banyak model) |
| Fitur pintar (notifikasi, aplikasi) | Terbatas | Lebih lengkap |
| Cocok untuk | Fokus tidur + recovery | Fokus olahraga + fitur jam pintar |
Kenapa akurasi wearable bisa berbeda?
Baik smart ring maupun smartwatch umumnya memakai sensor optik (PPG) untuk memperkirakan detak jantung dan turunan metriknya (seperti HRV). Tantangan utama PPG adalah noise akibat gerakan dan posisi sensor yang tidak pas. Beberapa faktor yang sering membuat data melenceng:
- perangkat longgar/bergeser
- aktivitas dengan banyak gerakan tangan
- suhu dingin (aliran darah perifer menurun)
- keringat dan gesekan
- kulit sangat kering atau permukaan sensor kotor
Karena itu, “lebih akurat” harus diikat ke konteks: tidur, aktivitas ringan, atau olahraga intens.
Akurasi untuk tidur: siapa lebih unggul?
Smart ring sering unggul secara praktis karena:
- ringan dan minim gangguan saat tidur
- posisi ring cenderung stabil, sehingga sinyal lebih konsisten
- banyak ring dirancang dengan fokus utama pada tidur dan recovery
Smartwatch tetap bisa memantau tidur dengan baik, tetapi dua hal sering mengurangi konsistensi:
- jam dilepas saat tidur (tidak nyaman, baterai habis, atau kebiasaan)
- strap kurang pas sehingga sensor bergerak
Kesimpulan tidur: jika prioritas utama adalah sleep tracking, smart ring biasanya memberikan pengalaman yang lebih konsisten.
Akurasi detak jantung: istirahat vs olahraga
Saat istirahat dan aktivitas ringan:
Smart ring dan smartwatch umumnya sama-sama memadai, terutama jika dipakai dengan benar (pas, tidak longgar).
Saat olahraga intens:
Smartwatch biasanya lebih kuat karena:
- mode olahraga dan pemrosesan sinyal saat bergerak biasanya lebih matang
- strap bisa dikencangkan saat latihan sehingga sensor menempel stabil
Smart ring lebih berisiko “kalah” akurasi saat:
- olahraga dengan banyak gerakan tangan (angkat beban, HIIT, olahraga raket)
- ring berputar atau bergeser karena ukuran kurang pas
Kesimpulan detak jantung: untuk pemantauan saat olahraga, smartwatch lebih aman. Untuk tren harian saat istirahat, keduanya cukup.
Akurasi HRV: paling berguna untuk tren
HRV sangat sensitif terhadap kebiasaan dan kondisi tubuh. Angkanya dapat turun karena:
- tidur kurang
- stres
- alkohol
- latihan berat
- perjalanan jauh atau jadwal tidur berubah
HRV paling bermanfaat jika diperlakukan sebagai:
- tren 7–14 hari
- dibandingkan dengan baseline pribadi, bukan dibandingkan orang lain
Smart ring sering unggul untuk HRV karena pengukuran saat tidur cenderung minim gangguan gerak. Smartwatch unggul bila HRV ingin dibaca bersama metrik latihan, beban olahraga, dan pemulihan setelah sesi tertentu.
Akurasi SpO2: berguna, tetapi jangan dijadikan diagnosis
SpO2 pada wearable umumnya dipakai untuk pemantauan malam atau tren. Hasil bisa naik-turun karena:
- posisi tidur
- perfusi rendah (misalnya kondisi dingin)
- sensor tidak menempel stabil
SpO2 wearable lebih tepat dipakai untuk melihat pola (misalnya kecenderungan turun saat kualitas tidur buruk), bukan untuk menyimpulkan kondisi medis.
Untuk olahraga: smartwatch hampir selalu lebih unggul
Jika “kesehatan” yang dimaksud adalah kebugaran aktif (lari, sepeda, renang, gym), smartwatch biasanya lebih masuk akal karena:
- metrik real-time di layar
- mode olahraga spesifik
- dukungan interval dan target zona
- GPS pada banyak model
- integrasi latihan dan ringkasan performa
Smart ring lebih cocok sebagai perangkat pendamping untuk recovery dan tidur.
Faktor paling menentukan akurasi (dan sering terlewat)
A) Ukuran dan fit (krusial untuk smart ring)
Ring yang longgar:
- mudah berputar/bergeser
- meningkatkan noise sensor
- membuat data tidur/HR/HRV kurang konsisten
B) Strap dan posisi sensor (krusial untuk smartwatch)
Strap terlalu longgar saat olahraga:
- membuat bacaan detak jantung “loncat-loncat”
- menurunkan kualitas sinyal
C) Konsistensi pemakaian
Perangkat dengan data terbaik adalah yang dipakai secara konsisten, terutama saat tidur.
Panduan memilih: smart ring atau smartwatch?
Pilih smart ring jika:
- fokus utama pada tidur dan recovery
- tidak suka tidur memakai jam
- ingin perangkat yang minim distraksi
- ingin wearable yang ringkas dan tidak mencolok
Pilih smartwatch jika:
- fokus utama pada olahraga dan pemantauan real-time
- butuh fitur jam pintar (notifikasi, panggilan, aplikasi)
- membutuhkan GPS dan metrik latihan yang lebih lengkap
Pilih keduanya jika:
- smartwatch dipakai untuk latihan
- smart ring dipakai untuk tidur dan recovery
Checklist sebelum membeli (praktis)
- Sesuaikan ketahanan air dan material dengan aktivitas harian
- Tentukan prioritas: tidur/recovery atau olahraga
- Pastikan kompatibel dengan HP dan aplikasinya stabil
- Perhitungkan biaya berkelanjutan (langganan, fitur, dukungan)
- Pastikan ukuran ring pas atau strap jam pas
- Cek kebijakan privasi data kesehatan
Baca Juga:








