Pusat Budaya Melayu Tanjungpinang Ditegaskan Lis Darmansyah

Pusat Budaya Melayu kembali ditegaskan dalam peringatan Hari Jadi ke-242 Kota Tanjungpinang lewat upacara di halaman kantor wali kota. Wali Kota Lis Darmansyah menyebut usia 242 tahun bukan sekadar angka, melainkan penanda perjalanan panjang kota yang dibangun oleh nilai sejarah dan adat. Pada momen ini, pemerintah mengajak warga menjaga identitas kota sambil menata langkah pembangunan agar manfaatnya terasa di tingkat keluarga. Rangkaian peringatan disertai doa bersama dan ziarah sebagai pengingat akar sejarah.

Rangkaian kegiatan tahun ini digelar lebih sederhana sebagai empati terhadap wilayah yang menghadapi bencana, tanpa mengurangi makna perayaan. Lis menekankan bahwa Pusat Budaya Melayu harus terlihat dari cara kota merawat tradisi, memperkuat kebersamaan, dan menghadirkan ruang aman bagi kegiatan masyarakat. Pemerintah meminta partisipasi komunitas, tokoh adat, dan generasi muda untuk menghidupkan kegiatan budaya secara tertib dan berkelanjutan. Sebagai ibu kota provinsi, Tanjungpinang perlu memastikan nilai budaya berjalan seiring pelayanan yang akuntabel di semua kelurahan setiap hari secara nyata.

Peran Kota Dalam Pelestarian Tradisi Dan Warisan Melayu

Dalam pidatonya, pemerintah menempatkan kota sebagai simpul penting bagi berkembangnya adat istiadat Melayu di Kepulauan Riau. Status sebagai Pusat Budaya Melayu dinilai perlu dijaga melalui kalender kegiatan yang konsisten, penguatan komunitas seni, dan dukungan fasilitas yang memadai. Di tingkat pelaksanaan, kelurahan dan sekolah didorong menampilkan tradisi lokal, dari sastra hingga pertunjukan, dengan pendekatan edukatif. Pelestarian juga mencakup dokumentasi arsip, perawatan situs sejarah, dan ruang belajar komunitas secara terarah.

Nilai yang dirujuk dalam peringatan ini mengajak masyarakat berbenah, termasuk dalam etika, tata krama, dan kepedulian sosial. Penguatan literasi budaya penting agar pesan moral warisan Melayu tidak berhenti sebagai seremonial, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari. Karena itu, Pusat Budaya Melayu juga perlu hadir dalam layanan publik yang ramah, komunikasi pemerintah yang santun, dan keteladanan di ruang-ruang bersama. Rujukan nilai Gurindam Dua Belas disebut sebagai pengingat menjaga martabat kota.

Selain kegiatan budaya, agenda kolaborasi antarlembaga diarahkan untuk memperkuat tata kelola dan sinergi pelayanan. Penataan program dinilai penting agar pelestarian tradisi berjalan seiring pengelolaan kota, termasuk kebersihan kawasan wisata, penataan pedagang, dan keamanan acara. Dengan kerja lintas sektor, perayaan hari jadi diharapkan menjadi pintu masuk memperkuat identitas sekaligus daya saing kota. Kerja sama ini juga mendorong promosi wisata budaya yang tertib dan berpihak pada UMKM.

Tema berbenah yang diangkat dalam hari jadi dibaca sebagai komitmen memperbaiki hal-hal mendasar yang dirasakan warga. Pembenahan tidak hanya menyasar infrastruktur, tetapi juga kecepatan layanan administrasi, kejelasan informasi, dan konsistensi penanganan keluhan di tingkat kelurahan. Pemerintah menyatakan evaluasi dilakukan agar program prioritas berjalan terukur dan tidak terputus pada pergantian kebijakan. Pelaporan capaian berkala dinilai perlu agar publik mengetahui progres dan hambatan.

Baca juga : Prestasi Dekranasda Tanjungpinang Raih Juara Terbaik Dekra Fest

Warga berharap komitmen itu diwujudkan dalam lingkungan yang lebih tertata, mulai dari drainase, pengelolaan sampah, hingga keselamatan di jalan lingkungan. Saat Pusat Budaya Melayu diperkuat, banyak pihak menilai wajah kota perlu mencerminkan kerapian, keteraturan, dan keramahan bagi pendatang. Ruang publik yang nyaman, pencahayaan memadai, dan aktivitas komunitas yang terjadwal dapat membuat budaya hidup tanpa mengganggu ketertiban. Penataan parkir dan kebersihan kawasan pesisir kerap disebut sebagai ukuran keseriusan pembenahan.

Di akhir peringatan, pemerintah mengajak seluruh elemen menjaga semangat kebersamaan dalam menghadapi tantangan ekonomi dan sosial. Upaya memperkuat budaya, meningkatkan layanan, dan menata ruang kota dinilai saling berkaitan karena menyentuh rasa aman serta kebanggaan warga. Jika kolaborasi berjalan konsisten, Tanjungpinang diharapkan tumbuh sebagai kota yang berkarakter, terbuka, dan mampu menjadi teladan di wilayah kepulauan. Pemda menyatakan pintu dialog terbuka agar masukan warga cepat diterjemahkan menjadi perbaikan nyata dalam waktu dekat ini.

Related Posts

Pemanggilan Saksi WhatsApp Disorot, Sidang Ditunda

Pemanggilan Saksi WhatsApp menjadi sorotan dalam sidang dugaan pengeroyokan di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Selasa, 6 Januari 2026, ruang utama. Majelis hakim menunda persidangan karena jaksa penuntut umum belum mampu menghadirkan…

Zikir Istighosah Tanjungpinang Meriahkan Milad Ke-242

Zikir Istighosah Tanjungpinang mewarnai peringatan Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama dan Milad ke-242 kota, yang digelar di Masjid Al Uswatul Hasanah, Jalan Ir. Sutami, Kelurahan Suka Berenang, Rabu malam.…

You Missed

Pemanggilan Saksi WhatsApp Disorot, Sidang Ditunda

Pemanggilan Saksi WhatsApp Disorot, Sidang Ditunda

Zikir Istighosah Tanjungpinang Meriahkan Milad Ke-242

Zikir Istighosah Tanjungpinang Meriahkan Milad Ke-242

Perombakan OPD Tanjungpinang Mengarah Rotasi Besar Pemkot

Perombakan OPD Tanjungpinang Mengarah Rotasi Besar Pemkot

Imbauan Rob Tanjungpinang Berlaku Hingga 9 Januari

Imbauan Rob Tanjungpinang Berlaku Hingga 9 Januari

Banjir Rob Tanjungpinang Capai 2 Meter Warga Siaga

Banjir Rob Tanjungpinang Capai 2 Meter Warga Siaga

Kasus DBD Tanjungpinang 497, Batu 9 Tertinggi

Kasus DBD Tanjungpinang 497, Batu 9 Tertinggi