Oase Literasi Tepi Laut Hidupkan Kata Halaman Tanjungpinang

Oase Literasi Tepi Laut kembali terasa di kawasan Tepi Laut, Tanjungpinang, saat komunitas Kata Halaman membuka lapak baca setiap akhir pekan. Di tepi promenade yang biasanya ramai untuk berjalan sore, warga kini berhenti sejenak, memilih buku, lalu membaca dengan latar angin laut. Relawan menata koleksi di tikar dan rak sederhana agar siapa pun bisa bergabung tanpa biaya. Banyak orang yang awalnya hanya lewat untuk berfoto justru duduk dan membuka buku, lalu kembali lagi pada pekan berikutnya, pada sore hingga malam.

Selain buku, panitia menyiapkan sudut mewarnai gratis untuk anak-anak agar keluarga betah berlama-lama. Pengunjung menilai suasana terbuka membuat membaca terasa lebih santai dibanding ruang baca konvensional, sehingga waktu luang terasa lebih berkualitas. Kata Halaman menyebut Oase Literasi Tepi Laut sebagai ruang ketiga, tempat warga bertemu, berbagi rekomendasi, dan pelan-pelan mengurangi distraksi gawai. Dari obrolan singkat antarwarga, lapak ini mulai membentuk kebiasaan baru, ketika buku menjadi alasan untuk berhenti dan berinteraksi.

Lapak Baca Gratis Jadi Ruang Ketiga Warga

Di Tepi Laut, Kata Halaman menata puluhan judul bacaan dari fiksi, nonfiksi ringan, hingga buku anak yang mudah dipilih pengunjung. Konsepnya dibuat seperti perpustakaan terbuka, sehingga orang bisa membaca di tempat tanpa perlu kartu anggota atau prosedur berlapis. Relawan juga menyiapkan alas duduk dan penanda sederhana untuk menjaga buku tetap rapi saat dipakai bergantian. Sebagian koleksi berasal dari donasi warga dan diseleksi agar kontennya relevan serta layak dibaca.

Kegiatan ini dilengkapi area mewarnai gratis, yang membuat orang tua lebih tenang karena anak-anak memiliki aktivitas sendiri. Saat anak mewarnai, orang tua cenderung ikut membuka buku, lalu bertukar rekomendasi dengan pengunjung lain. Kata Halaman menyebut pola ini membantu Oase Literasi Tepi Laut tumbuh alami, karena setiap keluarga merasa ikut memiliki ruang tersebut. Relawan mengingatkan pengunjung menjaga kebersihan dan mengembalikan buku ke tempatnya setelah selesai.

Pemilihan lokasi di ruang publik dianggap strategis karena banyak warga datang untuk olahraga, berfoto, atau sekadar menikmati senja. Ketika melihat lapak, mereka bisa langsung mencoba membaca tanpa rasa sungkan, lalu mencari judul serupa di toko atau meminjam koleksi komunitas. Dengan cara itu, Oase Literasi Tepi Laut diharapkan tidak hanya menjadi acara akhir pekan, tetapi pemantik kebiasaan membaca di kota. Diskusi singkat di tepi laut sering membuka perkenalan baru.

Penggerak komunitas menilai tantangan terbesar bukan sekadar menggelar lapak, melainkan menjaga konsistensi relawan dan ketersediaan buku yang layak. Mereka mengandalkan donasi, sumbangan buku bekas berkualitas, serta kerja sama kecil dengan pegiat literasi lain. Ketika cuaca buruk, kegiatan bisa bergeser ke titik yang lebih teduh atau dijadwalkan ulang agar pengunjung tetap nyaman. Mereka mencatat kebutuhan lampu baca dan tempat duduk tambahan warga setempat.

Baca juga : Revitalisasi Gedung Gonggong dikebut, akses publik aman

Untuk memperluas dampak, Kata Halaman membuka peluang kolaborasi dengan sekolah, kampus, dan perpustakaan daerah melalui program tukar koleksi dan sesi baca bersama. Agenda tematik, seperti membaca puisi atau bedah buku ringan, dipilih agar tidak terkesan eksklusif. Di saat yang sama, Oase Literasi Tepi Laut didorong tetap ramah bagi pembaca pemula, termasuk mereka yang baru ingin membangun kebiasaan membaca beberapa halaman saja.

Pengunjung juga diajak membawa kebiasaan ini ke rumah dengan membatasi waktu layar, menyiapkan pojok baca sederhana, dan membiasakan anak memilih buku sesuai minat. Pelaku UMKM di sekitar Tepi Laut menyambut kegiatan tersebut karena arus pengunjung lebih lama bertahan, sehingga transaksi makanan dan minuman ikut bergerak. Pemerintah daerah diharapkan memberi dukungan nonseremonial, seperti perizinan yang mudah, fasilitas kebersihan, dan penerangan memadai agar ruang publik aman. Jika ekosistemnya terbentuk, lapak ini bisa menjadi agenda kota yang konsisten sepanjang tahun.

Related Posts

Gelombang Tinggi Kepri Diprediksi Hingga Maret 2026

Gelombang Tinggi Kepri kembali menjadi perhatian setelah BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem di perairan Kepulauan Riau dapat berlanjut hingga akhir Maret 2026. Nelayan, operator kapal cepat, dan penumpang diminta meningkatkan…

Waspada Rob Pesisir Tanjungpinang, Wali Kota Imbau Siagate

Waspada Rob Pesisir menjadi pesan Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah kepada warga yang tinggal di kawasan pantai dan dataran rendah. Ia meminta masyarakat memantau jam pasang, mengamankan barang, dan tidak…

You Missed

Oase Literasi Tepi Laut Hidupkan Kata Halaman Tanjungpinang

Oase Literasi Tepi Laut Hidupkan Kata Halaman Tanjungpinang

Gelombang Tinggi Kepri Diprediksi Hingga Maret 2026

Gelombang Tinggi Kepri Diprediksi Hingga Maret 2026

Waspada Rob Pesisir Tanjungpinang, Wali Kota Imbau Siagate

Waspada Rob Pesisir Tanjungpinang, Wali Kota Imbau Siagate

PHBS Tangkal Superflu, Dinkes Tanjungpinang Imbau Warga

PHBS Tangkal Superflu, Dinkes Tanjungpinang Imbau Warga

Belanja Skincare Tanjungpinang Turun, Tren 2024 Disorot

Belanja Skincare Tanjungpinang Turun, Tren 2024 Disorot

Pemanggilan Saksi WhatsApp Disorot, Sidang Ditunda

Pemanggilan Saksi WhatsApp Disorot, Sidang Ditunda