Lonjakan kasus DBD Tanjungpinang terdeteksi pada awal Januari 2026, ketika Dinas Kesehatan mencatat 14 kasus dalam pekan-pekan pertama tahun ini. Angka awal ini muncul setelah sepanjang 2025 tercatat ratusan kasus, sehingga kewaspadaan diminta tidak mengendur. Petugas puskesmas diminta memperkuat pemantauan dan pelaporan, terutama di wilayah padat penduduk setempat.
Kepala Dinkes menyebut tren 2025 mencapai 497 kasus, jauh lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Pada paruh kedua 2025, rata-rata kasus per bulan berada di kisaran 40 sampai 50, dan biasanya meningkat saat curah hujan tinggi. Kondisi cuaca yang berubah cepat turut mempengaruhi banyaknya genangan yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Dinkes menilai kelompok usia di atas 15 tahun paling banyak terdampak, disusul anak usia sekolah, sementara balita tetap perlu perhatian khusus. Warga diminta mengenali gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri kepala, nyeri otot, dan tanda perdarahan ringan, lalu segera memeriksakan diri. Pemerintah kota menegaskan pencegahan lebih efektif daripada penanganan ketika kasus sudah meluas.
Pola Kasus dan Faktor Lingkungan yang Memicu Penularan
Dinas Kesehatan memaparkan komposisi kasus didominasi warga usia di atas 15 tahun, sekitar 48 persen, disusul kelompok 5 hingga 14 tahun sekitar 42 persen, dan balita sekitar 10 persen. Data ini dipakai untuk menyusun edukasi berbasis sekolah dan komunitas kerja. Di sejumlah kelurahan, petugas puskesmas memetakan titik genangan dan rumah dengan jentik tinggi untuk intervensi cepat. Lonjakan DBD Tanjungpinang juga menjadi alarm agar orang dewasa tidak menyepelekan demam.
Menurut petugas lapangan, faktor utama yang sering memicu penularan adalah sanitasi lingkungan yang belum konsisten, mulai dari bak mandi tidak rutin dikuras hingga wadah air hujan di halaman. Tempat minum hewan, talang tersumbat, pot bunga, dan barang bekas bisa menjadi sarang nyamuk bila dibiarkan. Karena itu, penggerakan PSN 3M Plus kembali ditekankan, termasuk menutup rapat penampungan air dan mendaur ulang barang yang berpotensi menampung air secara berkala.
Dinkes juga mengingatkan perubahan cuaca yang tidak menentu membuat siklus nyamuk lebih cepat, terutama ketika hujan diselingi panas. Puskesmas diminta memantau tren harian dan menindaklanjuti laporan warga melalui survei jentik, bukan menunggu kasus bertambah. Di tingkat RT dan RW, kader jumantik dapat membantu mengecek rumah sekitar serta mengingatkan jadwal pembersihan rutin. Dengan pola ini, Lonjakan DBD Tanjungpinang diharapkan bisa ditekan sebelum memasuki puncak musim hujan.
Untuk menahan laju penularan, Dinkes menyiapkan fogging fokus di lokasi yang terkonfirmasi, disertai penyelidikan epidemiologi agar penyemprotan tepat sasaran. Petugas juga memantau rumah sekitar dalam radius tertentu dan memastikan ada upaya pemberantasan sarang nyamuk, karena fogging saja tidak memutus siklus bila jentik masih banyak. Lonjakan DBD Tanjungpinang membuat koordinasi dengan kelurahan, sekolah, dan pengelola lingkungan perumahan diperketat. Edukasi dari rumah ke rumah mendorong warga menutup penampungan.
Baca juga : Kasus DBD Tanjungpinang 497, Batu 9 Tertinggi
Warga diminta menjadwalkan 10 menit setiap pekan untuk menguras, menyikat, dan menutup wadah air, serta membuang barang bekas yang menampung air. Bila perlu, gunakan kelambu, kasa jendela, dan repelan, terutama pada pagi dan sore saat nyamuk aktif. Orang tua juga diimbau memeriksa sudut rumah, halaman, dan saluran air, termasuk talang dan pot tanaman. Di lingkungan padat, gotong royong dan penertiban tempat pembuangan sementara dinilai efektif mengurangi genangan.
Dinkes menekankan warga tidak menunda pemeriksaan bila demam tinggi muncul lebih dari dua hari, apalagi disertai lemas, nyeri perut, muntah berulang, atau mimisan. Tenaga kesehatan akan memantau tanda bahaya dan kondisi trombosit, sehingga penanganan cairan bisa diberikan lebih cepat. Hindari obat pereda nyeri tertentu tanpa anjuran nakes dan cukupkan minum agar tidak dehidrasi. Dengan respons cepat






