
Jejak Istana Kota Lama di kawasan Hulu Riau, Sungai Carang, kembali mengundang perhatian warga Tanjungpinang. Di lokasi yang dulu ramai aktivitas pemerintahan, kini tersisa tembok batu, struktur pondasi, dan jejak susunan bata yang mulai aus dimakan usia. Meski tak lagi utuh, situs ini tetap menjadi pengingat bahwa kota pesisir ini pernah berdiri sebagai pusat kekuasaan yang berpengaruh.
Kawasan Hulu Riau dikenal sebagai bagian penting lintasan sejarah Kesultanan Riau-Lingga. Catatan sejarah menyebut kawasan ini berkembang sejak akhir abad ke-17, lalu menjadi pusat pemerintahan pada masa pemindahan ibu kota pada 1719. Jejak yang masih terlihat memberi gambaran skala kawasan sekaligus perubahan lanskap akibat alam dan waktu.
Pemerintah daerah dan pegiat budaya mendorong pemeliharaan terarah agar tinggalan tersebut tidak hilang. Upaya pelestarian dinilai perlu berjalan bersama edukasi publik, agar kunjungan tidak sekadar berfoto, tetapi juga memahami konteks sejarahnya. Warga pun diimbau menjaga area, tidak merusak batuan, serta mematuhi rambu keselamatan di sekitar lokasi.
Sisa Struktur Dan Status Cagar Budaya Jadi Perhatian
Di lapangan, pengunjung kerap menyebut situs ini sebagai Istana Kota Rebah karena sebagian struktur telah runtuh. Jejak Istana Kota Lama terlihat dari sisa tembok batu yang menyembul di semak, serta susunan fondasi yang memanjang mengikuti kontur tanah. Beberapa bagian permukaan tampak terkikis, membuat batas ruang istana sulit dibaca tanpa informasi pendamping. Pada musim hujan, genangan dan vegetasi rapat menutupi batuan, sehingga jejak struktur mudah terlewat.
Peneliti yang meninjau kawasan itu menyebut masih ada fondasi yang panjangnya diperkirakan ratusan meter, dengan ketebalan tembok yang bervariasi. Pada sejumlah titik, batuan dan bata tua membentuk jalur yang mengarah ke sisi selatan, menandakan adanya tata ruang yang pernah dirancang. Di sekitar area juga ditemukan penanda makam sederhana, yang menambah lapisan cerita tentang aktivitas masa lalu di Hulu Riau. Warga berharap ada penataan jalur pejalan kaki agar pengunjung tidak menginjak bagian rapuh.
Status cagar budaya membuat pelestarian perlu standar perawatan yang jelas, mulai pendataan, pembatasan area retak, hingga interpretasi bagi pengunjung. Jejak Istana Kota Lama dinilai berpotensi menjadi ruang belajar sejarah lokal bila dilengkapi papan informasi dan pemandu yang memahami narasi. Edukasi penting agar kunjungan tidak hanya wisata, tetapi juga penguatan identitas kota. Dokumentasi dan pemetaan digital dapat membantu konservasi sekaligus promosi yang bertanggung jawab.
Di sekitar situs, kondisi sarana kunjungan disorot karena beberapa titik akses dilaporkan rusak. Pelantar modern di kawasan bakau dan ponton dermaga disebut mengalami kerusakan, sehingga pengunjung harus ekstra hati-hati saat turun atau menyeberang. Dinas kebudayaan dan pariwisata telah menyurati instansi teknis untuk uji kelayakan konstruksi, sambil menunggu perhitungan kebutuhan anggaran perbaikan. Pembenahan dinilai penting agar alur wisata sejarah tidak berisiko bagi warga dan pelajar.
Baca juga : Cagar Budaya Hulu Riau Nyaris Tenggelam di Tanjungpinang
Pengamat budaya menilai penataan kawasan tidak cukup hanya membangun jalur, tetapi juga merapikan narasi sejarah di lokasi. Informasi tentang perkembangan Hulu Riau sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan sejak 1673, serta perpindahan ibu kota pada 1719, perlu disajikan secara mudah dipahami. Jejak Istana Kota Lama dapat dihubungkan dengan rute lain, seperti kampung tua, makam bersejarah, dan titik pandang sungai. Dengan paket edukasi, kunjungan sekolah bisa menjadi kegiatan belajar yang terukur dan aman.
Upaya kolaboratif dibutuhkan agar pelestarian tidak bergantung pada satu pihak saja. Pemerintah, akademisi, pelaku wisata, dan warga sekitar dapat menyusun aturan kunjungan, jadwal pembersihan, serta program relawan untuk memantau kerusakan. Jejak Istana Kota Lama akan lebih bernilai jika dimaknai sebagai warisan bersama yang mendukung ekonomi lokal tanpa mengorbankan keaslian situs. Di tengah tren wisata berbasis pengalaman, pengelolaan rapi dapat mengangkat citra Tanjungpinang sebagai kota sejarah.






