
Bedah Buku Kepri mewarnai ruang Studio Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Tanjungpinang, Kamis 8 Januari 2026. Kegiatan membahas buku Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar karya Rajabul Abdul Amin dengan suasana diskusi terbuka. Sejumlah tokoh adat, perangkat daerah, mahasiswa, dan pegiat literasi hadir menyimak gagasan tentang budaya maritim dan identitas Kepri.
Acara dibuka Asisten I Pemerintahan dan Kesra Tamrin Dahlan mewakili Wali Kota Tanjungpinang. Ia menilai menulis terlihat sederhana, tetapi menuntut disiplin dan keberanian untuk konsisten. Tamrin meminta generasi muda memandang karya tulis sebagai investasi pengetahuan yang dapat melampaui zamannya. Ia juga mengingatkan diskusi publik perlu memberi ruang kritik santun dan data.
Rajabul menyebut buku ini lahir dari kegelisahan karena informasi tentang sejarah dan budaya Kepulauan Riau masih minim beredar di luar daerah. Melalui pendekatan komunikasi budaya, ia merangkai pengalaman lapangan, cerita pulau, serta dinamika masyarakat pesisir. Penyelenggara berharap agenda ini memperkuat ekosistem literasi dan mendorong produksi karya lokal yang berkelanjutan.
Tamrin Dorong Literasi dan Karya yang Bertahan Lama
Dalam sesi pembukaan, Tamrin menilai Bedah Buku Kepri bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang pertemuan gagasan lintas generasi. Ia melihat karya Rajabul memiliki peluang dibaca ulang di masa mendatang, ketika masyarakat mencari sumber pemahaman tentang Kepri. Menurutnya, buku yang baik sering baru terasa nilainya setelah waktu berjalan dan konteks berubah. Ia menekankan literasi memperkuat daya tahan masyarakat menghadapi arus informasi yang cepat.
Tamrin mengibaratkan ketahanan karya seperti jejak Raja Ali Haji yang tetap dirujuk hingga kini, karena memuat pengetahuan, ketelitian, dan keberpihakan pada kebudayaan. Ia meminta sekolah, komunitas, dan perangkat daerah memberi tempat bagi diskusi buku rutin, bukan hanya saat peluncuran. Kehadiran museum sebagai lokasi acara juga dinilai tepat karena menghubungkan teks dengan artefak dan ingatan kolektif. Dukungan dapat berbentuk ruang baca, kelas menulis, hingga pembelian buku untuk perpustakaan kelurahan.
Panitia menyebut Bedah Buku Kepri turut menghadirkan narasumber yang menyorot jalinan makna komunikasi budaya di Bumi Segantang Lada. Dialog membahas bagaimana bahasa, adat, dan praktik maritim membentuk cara masyarakat memandang pulau, laut, serta ruang hidupnya. Dari forum ini, peserta diharapkan membawa pulang kebiasaan sederhana, membaca, menulis catatan, dan membagikan informasi yang terverifikasi. Sejumlah peserta mengusulkan tur edukasi singkat di museum agar diskusi lebih kontekstual bagi pelajar dan pengunjung luar daerah.
Rajabul Abdul Amin mengatakan Bedah Buku Kepri menjadi ruang untuk menjelaskan alasan ia menulis tentang laut dan pulau sebagai bahasa kehidupan. Ia menilai banyak orang di luar daerah mengenal Kepri hanya sebatas destinasi, tanpa memahami sejarah, adat, dan dinamika komunitas pesisir. Karena itu, buku ini disusun dari pengamatan, percakapan, dan catatan tentang cara masyarakat berkomunikasi melalui tradisi dan ruang maritim.
Baca juga : Semarak Museum di Hatiku Hidupkan Sejarah Pelajar
Dalam diskusi, ia menekankan komunikasi budaya tidak selalu hadir dalam pidato atau upacara resmi, tetapi juga pada kebiasaan harian, pilihan kata, dan cara menjaga hubungan sosial. Pemetaan makna itu, menurutnya, penting untuk mencegah stereotip dan memperkuat rasa memiliki di kalangan generasi muda. Narasumber yang hadir memberi tanggapan kritis, termasuk perlunya dokumentasi yang rapi agar cerita lokal tidak hilang atau dipelintir. Ia mengajak peserta menulis ulang pengalaman lokal dengan gaya jernih dan rujukan yang dapat diperiksa.
Pemkot menyatakan Bedah Buku Kepri akan menjadi contoh kolaborasi antara museum, komunitas, dan penulis muda dalam merawat pengetahuan lokal. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan rutin, dengan sesi baca bersama, lokakarya menulis, dan ruang dialog terbuka bagi publik. Warga yang datang juga didorong membeli buku di jalur resmi serta membagikan ringkasan yang akurat, sehingga literasi tumbuh tanpa memicu hoaks. Museum menjadi titik temu arsip dan cerita.






