
Rajab Sambut Ramadan menjadi pengingat Menteri Agama RI Nasaruddin Umar agar umat menata ibadah sejak dini. Pesan itu disampaikan dalam tausiyah yang menekankan Rajab sebagai fase pemanasan sebelum Ramadan. Pemerintah berharap ajakan ini memperkuat kesiapan spiritual masyarakat di daerah. Sejumlah tokoh agama menilai langkah awal ini membantu menjaga suasana religius sejuk dan inklusif.
Dalam penjelasannya, kemenag Tanjungpinang menilai banyak orang baru mengencangkan ibadah saat hari pertama puasa. Pola tersebut membuat adaptasi terasa berat, baik untuk ritme salat, tilawah, maupun pengendalian diri. Karena itu, Rajab dipandang sebagai momentum merapikan niat, kebiasaan, dan disiplin harian. Umat dapat mulai dari amalan sederhana yang rutin, lalu ditingkatkan bertahap ketika memasuki Sya’ban.
Menag juga mengingatkan bahwa persiapan bukan sekadar menambah target, tetapi menjaga kualitas dan ketenangan hati. Dengan memulai langkah kecil yang konsisten, Rajab Sambut Ramadan diharapkan menjadi jembatan menuju Ramadan yang lebih tertib dan bermakna. Umat diajak saling menguatkan di keluarga, masjid, dan lingkungan kerja.
Fokus Ibadah yang Ditekankan Sejak Rajab
Menag menyoroti pentingnya memperbanyak salat wajib dan sunnah sebagai fondasi latihan disiplin. Ia mengingatkan, menjaga waktu salat akan memudahkan pengaturan aktivitas ketika jadwal sahur, berbuka, dan tarawih datang. Rajab Sambut Ramadan dipakai untuk membangun ritme tersebut secara bertahap agar tidak terasa mendadak. Di sejumlah masjid, pengurus juga didorong menata agenda kajian dan kebersihan fasilitas sejak awal agar jamaah lebih nyaman, termasuk pengaturan tempat wudu, penerangan, suara, dan akses parkir.
Selain salat, umat didorong meningkatkan tilawah Al-Qur’an dan memperbaiki adab membaca. Target bacaan disarankan realistis, misalnya menambah beberapa ayat setiap hari sambil memahami maknanya. Agar tidak sekadar mengejar jumlah, Menag menekankan pentingnya tadabbur, menjaga lisan, dan menahan emosi dalam aktivitas harian. Bila dilakukan konsisten, kebiasaan ini membuat suasana rumah lebih tenang, memperkuat ikatan keluarga, dan menyiapkan mental menyambut ibadah puasa, sekaligus menumbuhkan kebiasaan membaca di sela pekerjaan atau perjalanan.
Menag juga mengajak memperbanyak doa, zikir, dan sedekah sebagai cara melatih empati sosial. Kegiatan berbagi dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti membantu tetangga, masjid, atau kelompok rentan, terutama lansia dan keluarga prasejahtera. Ia mengingatkan agar bantuan dilakukan dengan cara yang menjaga martabat penerima, bukan sekadar seremonial. Melalui Rajab Sambut Ramadan, umat diharapkan menguatkan hati sekaligus merawat kepedulian sosial sebelum memasuki bulan puasa.
Sejumlah ulama mengingatkan bahwa kesiapan Ramadan sangat dipengaruhi oleh konsistensi, bukan ledakan semangat sesaat. Karena itu, Menag mendorong umat membuat rencana ibadah harian yang sederhana dan bisa diukur, lalu menyesuaikannya dengan kemampuan masing-masing, dengan target mingguan yang realistis dan mudah dipantau. Catatan kecil tentang salat, tilawah, dan sedekah dinilai membantu evaluasi tanpa menimbulkan beban berlebihan. Ketika ritme sudah terbentuk, transisi ke puasa dan tarawih biasanya terasa lebih ringan.
Baca juga : FKUB dan Kemenag Tanjungpinang Sepakat Jaga Kondusivitas
Dari sisi keluarga, suasana rumah yang tertib menjadi penopang penting agar ibadah berjalan stabil. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi soal jadwal, adab berbuka, hingga penggunaan gawai agar tidak mengganggu waktu ibadah. Di lingkungan kerja, pegawai juga diimbau mengatur waktu istirahat dan aktivitas sosial supaya produktivitas tetap terjaga. Sementara itu, pengurus masjid didorong menyiapkan relawan, kebersihan, dan keamanan agar kegiatan Ramadan berlangsung tertib, termasuk pengaturan parkir dan alur jamaah.
Menag menekankan pentingnya menjaga kesehatan, termasuk pola makan, tidur, dan kebersihan, sehingga tubuh siap menjalani puasa. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang memecah belah, terutama menjelang momen keagamaan besar. Dengan semangat Rajab Sambut Ramadan, persiapan diharapkan berlanjut sampai Ramadan tiba dan berbuah kebiasaan baik setelahnya. Komitmen ini juga mencakup menjaga kerukunan, menghormati perbedaan, dan memperkuat solidaritas di ruang publik.






