Pompong Penyengat Terbalik, Seluruh Penumpang Selamat

Insiden laut mengejutkan terjadi pada Senin pagi ketika sebuah pompong Pulau Penyengat terbalik di perairan Senggarang, Tanjungpinang. Kapal kayu tersebut membawa enam staf Kelurahan Penyengat bersama seorang tekong yang tengah kembali dari apel pagi. Kapal terbalik setelah dihantam angin kencang dan gelombang tinggi sekitar pukul 09.30 WIB.

Meski situasi sangat membahayakan, respons cepat warga sekitar dan aparat kepolisian berhasil mengevakuasi seluruh penumpang dengan selamat. Para korban segera dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan medis. Beberapa staf mengalami syok dan trauma, namun tidak ada laporan luka serius. Kejadian pompong Penyengat terbalik ini menjadi pengingat penting tentang betapa rentannya transportasi laut tradisional terhadap kondisi cuaca ekstrem.

Respons Cepat Aparat dan Penanganan Korban

Kapolsek Tanjungpinang Kota, AKP Monang Silalahi, menjelaskan bahwa penyebab awal adalah pompong yang kemasukan air hingga akhirnya oleng dan terbalik. Setelah menerima laporan, aparat bersama masyarakat segera melakukan evakuasi di lokasi kejadian. Kepala BPBD Tanjungpinang, Muhammad Yamin, juga memastikan bahwa Tim Reaksi Cepat (TRC) diterjunkan untuk membantu penanganan insiden ini.

Dalam proses evakuasi, semua penumpang berhasil dibawa ke Puskesmas Kampung Bugis. Tim medis melakukan pemeriksaan intensif guna memastikan tidak ada korban yang mengalami cedera serius. Walaupun selamat, sebagian korban masih mengalami syok mendalam akibat peristiwa pompong Penyengat terbalik. Penanganan psikologis pun direkomendasikan untuk mengurangi dampak trauma. Peristiwa ini menunjukkan pentingnya kesiapan instansi terkait dalam menghadapi kejadian darurat di wilayah perairan.

Baca juga : Penataan Pulau Penyengat Berlanjut, Fokus Wisata dan Budaya

Kejadian pompong Penyengat terbalik menjadi alarm keras bagi nelayan, penumpang, maupun tekong lokal agar selalu waspada terhadap perubahan cuaca. Aparat mengimbau masyarakat untuk rutin memantau prakiraan cuaca dari BMKG sebelum melakukan perjalanan laut. Selain itu, kewajiban menggunakan jaket pelampung dan perlengkapan keselamatan dasar perlu ditegakkan lebih disiplin.

Selain faktor cuaca, evaluasi terhadap standar operasional transportasi laut tradisional harus menjadi perhatian pemerintah. Pelatihan navigasi bagi tekong, pemeliharaan rutin kapal, serta peningkatan kesadaran keselamatan masyarakat menjadi langkah penting. Dengan mitigasi yang tepat, risiko kecelakaan serupa bisa diminimalkan. Insiden ini diharapkan menjadi pelajaran berharga agar transportasi laut di Tanjungpinang semakin aman, meski menghadapi tantangan alam yang tidak terduga.

Related Posts

Gaia Ballroom Tanjungpinang Dorong Wisata MICE 2026

Gaia Ballroom Tanjungpinang menjadi sorotan setelah SekDa Zulhidayat, menyatakan dukungan pemanfaatan fasilitas tersebut untuk memperkuat wisata dan agenda daerah. Dukungan itu disampaikan dalam kegiatan gathering serta perkenalan ballroom di Nite…

Komunitas Honda Stylo160 Resmi Mengaspal di Tanjungpinang

Komunitas Honda Stylo160 di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, mulai menegaskan eksistensinya lewat kegiatan city rolling yang dikemas santai namun terarah. Agenda yang digelar PT Capella Dinamik Nusantara (Capella Honda) ini mempertemukan…

You Missed

Gaia Ballroom Tanjungpinang Dorong Wisata MICE 2026

Gaia Ballroom Tanjungpinang Dorong Wisata MICE 2026

Komunitas Honda Stylo160 Resmi Mengaspal di Tanjungpinang

Komunitas Honda Stylo160 Resmi Mengaspal di Tanjungpinang

Ranperda pangan industri Tanjungpinang dipercepat 2026

Ranperda pangan industri Tanjungpinang dipercepat 2026

Turnamen Domino Lanudal Meriah Di Tanjungpinang Resmi

Turnamen Domino Lanudal Meriah Di Tanjungpinang Resmi

Musrenbang Kelurahan Tanjungpinang dimulai di Bukit

Musrenbang Kelurahan Tanjungpinang dimulai di Bukit

Gubernur minta Garuda layani Tanjungpinang terus

Gubernur minta Garuda layani Tanjungpinang terus