Diduga Fitnah Pecalang, Ketua FPI Dilaporkan ke Polda Bali

Sejumlah tokoh Hindu dan Islam Bali berdiskusi saat melaporkan Sekjen Front Pembela Islam (FPI), Munarman, ke Polda Bali, Senin 16 Januari 2016. (Antara)

Denpasar – Sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) di Bali melaporkan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Munarman ke Polda Bali karena diduga memfitnah pecalang atau petugas keamanan adat di Pulau Dewata yang tersebar di situs jejaring sosial Youtube.

“Agar Munarman diproses secara hukum karena itu sudah meresahkan,” kata Pendiri dan Pembina Yayasan Sandi Murti, I Gusti Agung Ngurah Harta saat melaporkan kasus itu di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Bali di Denpasar, Senin (16/1). Ngurah Harta didampingi puluhan anggota ormas lain, yakni Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Badung, Laskar Bali, Nahdlatul Ulama (NU), dan Patriot Garuda Nusantara.

Ngurah Harta menjelaskan umat Muslim dan Hindu di Bali memiliki hubungan yang harmonis, bahkan saling membantu saat ada kegiatan keagamaan. Namun, ucapan Munarman di Youtube dinilai telah mengganggu pluralisme di Bali.

“Kita melaporkan hal tersebut. Selama ini tidak ada hal yang demikian. Kita di Bali hidup rukun dan damai. Pecalang tidak ada yang melarang orang Muslim salat. Bahkan, pecalang ini menjaga keamanan waktu mereka salat,” katanya.

Ngurah mengaku pihaknya baru mengetahui rekaman tersebut beredar di Youtube, lalu berinisiatif melaporkan hal tersebut ke Kepolisian.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Badung, Imam Bukhori mengatakan pihaknya mendukung laporan tersebut karena ucapan salah satu petinggi FPI itu dianggap mengganggu toleransi umat beragama di Bali.

“(Tudingan) itu tidak benar. Setiap kegiatan di masyarakat, baik jaga gereja, menjaga (kegiatan) keagamaan lintas agama, Banser dan pecalang, selalu ada di tempat kegiatan,” katanya.

Sedangkan, Faisol, salah seorang warga NU, mengatakan tidak pernah ada pecalang yang melarang Muslim salat. Pecalang juga tidak pernah merusak rumah umat Islam di Bali. “Ketika kita salat justru para pecalang ini membantu mengamankan,” ujarnya.

Setelah melaporkan di SPKT, mereka diarahkan ke Unit Kejahatan Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Bali karena kasus itu berkaitan dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Video Munarman yang diduga memfitnah pecalang itu beredar di Youtube dengan judul “FPI Datangi dan Tegur Kompas terkait Framing Berita Anti-Syariat Islam”. Dalam rekaman video berdurasi  1 jam 24 menit yang diunggah Markaz Syariah pada 17 Juni 2016 itu, Munarman menyebut pecalang melempari rumah dan melarang umat Muslim salat Jumat.

 

 

I Nyoman Mardika/AB

ANTARA

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *