Polisi Bongkar Gudang Pakaian Bekas Impor Ilegal Beromzet Miliaran

Buruh memikul gula asal Thailand yang diturunkan dari kapal Fery BRR NAD-Nias di pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, 25 Juni 2015 (Antara/Ampelsa)
Buruh memikul gula asal Thailand yang diturunkan dari kapal Fery BRR NAD-Nias di pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, 25 Juni 2015 (Antara/Ampelsa)

Jakarta – Subdirektorat Sumber Daya Lingkungan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, membongkar sindikat penyelundupan ribuan bal koli pakaian bekas impor, di gudang penyimpanan, Jalan Inspeksi Banjir Kanal Timur RT 07 RW 01, Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono mengatakan, polisi mengamankan 12 orang tersangka yakni berinisial, HS selaku pemilik barang, PR, SK (29) mandor gudang, NHD (36) asisten mandor, WL (31) buruh angkut, BS (37) pembeli atau pedagang di Pasar Senen, RD (44) sopir truk, DSL als D (46) sopir truk, AAZS (43), sopir truk. JRM alias JN (47) sopir truk, SHM (45) sopir truk, dan SSD alias SND (27) sopir truk.

“Tersangka HS menyelundupkan barang-barang ini dibantu rekannya PR dan UD yang masih buron (DPO). Selain itu, kami juga amankan 11 orang lainnya,” ujar Awi, Senin (1/8).

Dikatakan Awi, HS menyelundupkan pakaian bekas itu dengan modus mengimpor tekstil dan pakaian bekas dari Korea dan Jepang melalui pelabuhan kecil yang minim pengawasan.

“Selanjutnya, tersangka menyimpan pakaian bekas ilegal ini di gudang sebelum dijual kembali. Barang bekas itu ada kaos oblong pria-wanita, kemeja lengan panjang, celana jeans, sepatu, dan lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Fadil Imran mengatakan, penyidik mengamankan 2.216 bal koli pakaian bekas, belasan nota surat jalan, buku catatan distribusi barang, dan enam alat angkut.

“Pakaian bekas dijual pelaku per bal Rp 2 sampai Rp 3 Juta. Rata-rata menjual 300 bal dalam sebulan. Tersangka mampu meraup keuntungan hingga Rp1miliar,” katanya.

Ia menyampaikan, tersangka sudah menjalankan bisnis ilegal ini selama tiga tahun.

“Potensi kerugian negara dari pajak yang harusnya dibayarkan dalam setahun mencapai miliaran. Barang-barang ini diduga datang dari Tiongkok, Korea dan Jepang. Tapi hasil pemeriksaan kami hanya didatangkan dari dua negara yaitu dari Korea dan Jepang,” jelasnya.

Fadil mengungkapkan, barang ilegal ini dikumpulkan tersangka di Malaysia terlebih dulu. Kemudian, dibawa ke Jakarta melalui pelabuhan kecil di Riau, selanjutnya menggunakan jalur darat melintasi Pantai Timur Sumatera, Lampung, Pelabuhan Bakaheuni, Merak, dan masuk Jakarta.

“Dari segi kesehatan, pakaian bekas ini juga berpotensi membawa penyakit, kuman dan bakteri, karena masuk tanpa pemeriksaan kesehatan dari instansi terkait,” tandasnya.

Para tersangka, diduga melanggar Pasal 111, 112 ayat 2, dan 113 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan Juncto Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 51 tentang Larangan Impor Pakaian Bekas dan atau Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1995 tentang Kapabeanan. Ancaman hukumannya 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp 5 miliar.

Bayu Marhaenjati/CAH

BeritaSatu.com

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *