SAYANG PEMERINTAH KEPADA PARA PENULIS NEGERINYA atensi pemerintah suatu Negara kepada penulis, kian menipiskah

maminTANJUNGPINANG-(BT)-SAYANG PEMERINTAH KEPADA PARA PENULIS NEGERINYA
atensi pemerintah suatu Negara kepada penulis, kian menipiskah?—

Hanya pemerintah yang kearogansian kepada kekuasaan –kekayaan harta benda–, dan sejumlah jabatan strategis dari suatu negeri saja yang membiarkan dunia literasinya kian tambah sirna saja, bahkan punah sekalipun. Dan pada situasial nan sangat riskan, ada pihak-pihak tertentu secara terselebung, dan sengaja membungkamkannya, via beragam kebudayaan, sang perekayasa peradaban yang berpihak kepada segala kekayaan, dan / atau kepentingan sejumlah korporat raksasa dunia…

Upaya para perekayasa, pro peradaban rancangan gagasan para kerakusan harta benda, kian tambah menggila saja. Tatkala mereka –secara tak langsung sudah “menjajah”, atau– “menguasai” sejumlah Negara Kaya Raya segalanya. Yang jarak-jauh, bahkan ada kalanya jarak – dekat, via peliharaan(aparatur)nya, mereka “mengkotak-katik”kan sejumlah negeri nan melimpah-ruah kekayaan harta bendanya, sesuai desain settingan sejumlah korporasi binis level lintas benua.

Bagaimana dengan pemerintah yang aktualisasian membangun negerinya, kian tambah memantikkan spirit misi dan visi kepemerintahannya, guna memfaktualkan segala peradaban kemuliaannya? Akan samakah peran dan fungsi mereka dalam menjalankan tugas negaranya dengan sejumlah oknum aparatur Negara, yang segala kiprah kerja merekapun, menomor-duakan tugas Negara, dan / atau menomor-satukan kepentingan partai, atau kepentingan –ini dan itu– lainya?

Peradaban kemuliaan, reletif lebih elegan –bahkan instan(kah?)– dengan merintis, meningkatkan, dan / atau mempertahankan budaya literasi. Sehingga via kebiasaan membaca dan menulis (literasi) lah, sejumlah peradaban kemuliaan kian terfaktualkan pada suatu negeri…

Oh…andaikan seseorang itu kepala dinas apapun, atau jabatan apapun namanya, bahkan andaian jabatan yang di atasnya lagi sekalipun. Yang tentu saja –kapasitas– peran dan fungsinya lebih dominan, dan elegan dalam memfaktualkan suatu upaya optimalisasi dunia literasi. Sehingga budaya literasipun, dari tahun ke tahun tumbuh dengan suburnya. Dan suatu ketikapun, ada kemungkinan pertumbuhan budaya literasi tersebutpun, tumbuh hingga menggapai batas ambang / stagnan kemajuannya.

Kemudian via –kapasitas– kemampuan, dan berbagai kesempatan apapun namanya, dia antusias respek kepada segala karya literasi apapun namanya. Khususnya menghargai para penulis lokal, tentunya. Sehingga merekapun lebih giat berkiprah karya. Dengan harapan, karya tulis merekapun antusias dilahap oleh para pembacanya.

Sehingga aktualisasi spirit merekapun selalu menggebu-gebu untuk menulis, dan terus menulis hingga akhir hidupnya. Dan keantusiasan mereka menulispun, kian tambah menggebu-gebu lagi, jika pemerintah –daerah– nyapun senantiasa semangat – suka menghargai –lebih– setiap jerih payah karya mereka. Sehingga suatu ketikapun, mereka akan berani bermimpi, hingga menjadikan kegiatan menulis sebagai karir utama kehidupan mereka. Bahkan karir kedua, dan / atau karir sampingan yang sangat mengiurkan pendapatan rupiahnya.

Duhai Pemerintah yang sangat sadar – sesadarnya, bahwa suasana surgadunia sudah di depan mata, via kemudahan menginstalkan sejumlah kebudayaan kemuliaan dari berbagai sumber referansi yang dianggap refresentatif.

Kepada sejumlah Negara yang melimpah-ruah, dengan segala Sumber Daya Manusia(SDM), dan Sumber Daya Alam(SDA) nya. Maukah duhai begawan aparatur negara, menancapkan budaya literasi hingga penetrasian minat segenap anak negerinyapun mengalahkan sejumlah kegemaran favorit lainnya?

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *