Kajati DKI Lolos Sidang Etik Internal, KPK Tak Terpengaruh

todung

Jakarta – Kejaksaan Agung (Kejagung) telah memutuskan tidak ada pelanggaran etik yang dilakukan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DKI, Sudung Situmorang dan Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati DKI Tomo Sitepu terkait kasus dugaan suap PT Brantas.

Suap itu diduga bertujuan untuk mengamankan perkara korupsi perusahaan BUMN tersebut yang tengah ditangani Kejati DKI.

Kejagung tidak akan menjatuhkan sanksi terhadap dua petinggi Kejati DKI tersebut, namun meski lolos dari pemeriksaan etik Kejagung, Sudung dan Tomo masih dibidik KPK.

Komisioner KPK, Laode M Syarif memastikan pemeriksaan etik yang dilakukan Kejagung berbeda dengan penyidikan yang dilakukan KPK. Untuk itu, tak menutup kemungkinan hasil pemeriksaan etik yang dilakukan Kejagung berbeda dengan pengusutan pihaknya.

“Begini, Kejaksaaan itu melaksanakan pemeriksaan etik, kami memberikan akses untuk memeriksanya. Jadi bisa saja keputusan yang diambil Kejagung berbeda dengan apa yang diambil oleh KPK. Tergantung pendalaman yang sedang kami lakukan,” kata Syarif di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (15/4).

Untuk mengusut kasus ini, KPK dipastikan akan memeriksa sejumlah saksi lainnya. Termasuk kembali memeriksa Sudung dan Tomo yang sebelumnya telah diinterogasi sebanyak dua kali.

“Dia kan baru dipanggil lagi dan masih akan diperiksa beberapa kali lagi ya,” kata Syarif di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (15/4).

Dikatakan Syarif, pemeriksaan terhadap kedua jaksa itu dilakukan untuk memetakan kasus ini dan mengusut pihak penerima suap. Hingga saat ini, KPK diketahui belum menetapkan pihak yang menerima suap sebagai tersangka.

“Sedang kita petakan itu. Antara pemberi dan penerima itu kan seharusnya ada meeting of mind, itu yang sebenarnya kita sedang (petakan),” katanya.

Diduga, uang suap dari Direktur Keuangan PT Brantas Abipraya, Sudi Wantoko dan Senior Manager PT Brantas Abipraya, Dandung Pamularno akan diberikan kepada Sudung dan Tomo melalui seorang perantara bernama Marudut. Syarif menyebut indikasi tersebut tengah didalami oleh penyidik.

“Indikasinya itu sedang didalami oleh kami. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak lama, kita akan mendengar jawaban yang pas,” ungkapnya.

Diberitakan, Tim Satgas KPK menangkap tiga orang dalam operasi pada 31 Meret. Mereka adalah Direktur Keuangan PT Brantas Abipraya Sudi Wantoko, Senior Manager PT Brantas Abipraya Dandung Pamularno dan seorang lainnya, bernama Marudut ditangkap usai bertransaksi suap di toilet pria di sebuah hotel di kawasan Cawang, Jakarta Timur.

Selain menangkap ketiga orang tersebut, Tim Satgas KPK juga menyita uang sebesar US$ 148.835. Uang tersebut diduga diberikan kedua petinggi PT Brantas Abipraya kepada Marudut untuk diserahkan kepada oknum di Kejati DKI. Uang tersebut dimaksudkan mengamankan perkara PT Brantas Abipraya yang ditangani Kejati DKI.

Setelah diperiksa intensif selama 1X24 jam, KPK menetapkan Sudi, Dandung, dan Marudut sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait penanganan perkara yang ditangani Kejaksaan Tinggi DKI.

Namun hingga saat ini KPK belum juga menetapkan tersangka penerima suap. Diduga uang tersebut ditujukan untuk Sudung dan Tomo, namun mereka berdua masih berstatus sebagai saksi.

Suara Pembaruan

Fana Suparman/HA

Suara Pembaruan

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *