daeng azis

Jakarta – Kepolisian Resort (Polres) Metropolitan Jakarta Utara, Sabtu (27/2) resmi menahan jagoan lokalisasi prostitusi Kalijodo, Daeng Azis di dalam tahanan Markas Polres Metro Jakarta Utara atas kasus pencurian listrik Cafe Intan di Jalan Kepanduan II, RW05, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Setelah ditangkapnya Daeng, Polda Metro Jaya siap membantu Pemprov DKI Jakarta untuk mengamankan proses penertiban ratusan bangunan liar di kawasan lokalisasi prostitusi Kalijodo yang sebagian besar masuk wilayah Kecamatan Penjaringan, dan adapula sebagian kecil yang masuk wilayah Kecamatan Tambora pada Senin (29/2) esok.

Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Daniel Bolly Hyronimus Tifaona, mengatakan pihaknya sudah menahan Abdul Azis alias Daeng Azis (DA) setelah menjalani beberapa kali gelar perkara dari kemarin hingga pagi ini.

‎”Kita sudah gelar perkara jam 7 pagi tadi, dan jam 9 pagi tadi DA sudah resmi kita tahan‎ karena kasus pencurian listrik yang merugikan negara dalam hal ini PLN, selama setahun negara menderita kerugian hingga Rp 500 juta,” ujar Bolly, Sabtu (27/2) siang di Jalan Inspeksi Waduk Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara usai menghadiri peresmian kantor Ditpolair Polda Metro Jaya.

Menurutnya, karena DA sudah memiliki cafe dan bar tersebut selama 20 tahun terakhir, maka total kerugian negara akibat pencurian listrik yang dilakukan DA mencapai Rp 20 Miliar dan pihaknya akan terus melanjutkan kasus ini hingga vonis hakim di pengadilan.

‎”Saya tegaskan bahwa perkataan kuasa hukum DA yang mengaku membayar Rp 17 juta itu keliru, DA bayar Rp 17 juta itu untuk membeli peralatan listrik yang ilegal, bukan dia membayar rutin tagihan listrik secara bulanan‎,” tegas Bolly.

Pihak kepolisian melihat listrik ilegal tersebut saat ini merupakan murni ulah DA, namun tidak menutup kemungkinan akan berkembang penyelidikannya terhadap keterlibatan orang dalam PLN yang ‎membuat DA leluasa melakukan pencurian listrik.

Dalam kasus pencurian listrik, DA yang merupakan tersangka tunggal dikenalan Pasal 51 ayat 3 UU RI Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan dengan ancaman hukuman pidana penjara selama 7 tahun dan denda Rp 2,5 Miliar.

“Untuk kasus kepemilikan senjata api, senjata tajam, dan minuman keras, dan perdagangan manusia kita tidak temukan, nanti biar Dirkrimum Polda Metro Jaya yang menindaklanjuti kasus tersebut,” tutupnya.

Perihak penertiban lokalisasi Kalijodo, Kapolda Metro Jaya, ‎Irjen Pol Tito Karnavian‎ mengaku siap untuk mendukung Pemprov DKI Jakarta dalam melakukan penertiban dengan menyiapkan 4.000-5.000 personil gabungan Polri dan TNI.

“Kita mendukung dari Pemda, satu hari kita selesaikan pembongkarannya, tapi‎ teknisnya tidak perlu diketahui publik secara detail, yang penting hasilnya, kita sudah punya teknis sendiri,‎” kata Tito singkat.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Muhammad Iqbal, mengatakan pihaknya juga sudah mempersiapkan berbagai hal untuk menjamin kelancaran dan keamanan berlangsungnya‎ penertiban lokalisasi prostitusi Kalijodo.

“Jagoan-jagoan selain Daeng sudah kita antisipasi secara taktis dan taktis untuk memback-up proses dari operasi Pekat itu, soal jagoan daeng lain diamankan atau tidak itu tidak perlu kita sampaikan‎ ke publik apakah sudah diamankan atau belum,” kata Iqbal.

Menurutnya, peran kepolisian dibantu TNI dalam penertiban Kalijodo adalah dengan menjalankan ‎’Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat)’ dengan penegakan hukum terhadap berbagai potensi kriminalitas dan tindak kekerasan.

“Dalam Operasi Pekat itu kita menemukan alat sajam untuk berbuat jahat, dan salah satunya pencurian listrik, untuk antisipasi kita punya teknis penggalangan dan penghimbauan yang dijalankan Pemkot Jakarta Utara dan Pemkot Jakarta Barat,” lanjut mantan Kapolres Metro Jakarta Utara itu.

Suara Pembaruan

Carlos Roy Fajarta/FMB

Suara Pembaruan