Bos Lobindo Bebas Berkeliaran

 

TANJUNGPINANG (bt)- Yon Fredi alias Anton, Direktur sekaligus pemilik PT Lobindo, sebagai tersangka dugaan kasus penggelapan uang Rp7,6 miliar milik PT Gandasari, masih bebas berkeliaran di luar sel tahanan.
Semestinya tersangka harus ditahan oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjungpinang, sejak perkara tersebut dilimpahkan oleh pihak penyidik Polres Bintan secera cepat beberapa waktu lalu.Hingga saat ini, mantan bos pengusaha bauksid tersebut hanya dikenakan wajib lapor oleh pihak Kejari Tanjungpinang selama dua kali dalam seminggu, yakni setiap Senin dan Kamis.

Pihak Kejari Tanjunpinang beralasan, tidak ditahannya tersangka dugaan kasus penggelapan uang senilai miliaran rupiah milik PT Gandasari tersebut, karena masih koperatif dan tidak akan melarikan diri.

Kondisi ini dinilai sebagian masyarakat, sangat jauh dibandingkan sejumlah tersangka dugaan kasus yang sama. Sebagai contoh, tersangka kasus penggelapan uang perusahaan PT Yoshikawa Electronic Bintan (YEB) sebesar RP1,1 miliar yang dilakukan seorang wanita bernama Radhiatul Mardiah (29) mantan staf akunting di perusahaan tersebut yang sejak dari penyidik ke polisian Bintan, hingga dilimpahkan ke Kejari Tanjungpinang, bahkan telah divonis oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang baru-baru selama 1 tahun 6 bulan, yang bersangkutan tetap dilakukan penahanan.

Dalam kasus yang sama sebelumnya, juga sempat dialami oleh tersangka Helman, Bos PT Hermina Jaya yang melakukan penggelapan dana reklamasi pasca tambang sebesar Rp3,6 miliar di Dabo Singkep tahun 2009, termasuk Dr Limaran Dwi Hartadi (63) yang saat masih menjadi terdakwa kasus dugaan penggelapan milik PT Korindo Group senilai kurang lebih Rp23.584.000.000 di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang.

Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Tanjungpinang, Ricky Setyawan SH, sebelumnya mengatakan tidak ditahannya tersangka dimaksud, karena sejak  penanganan perkaranya oleh pihak Kepolisian Bintan, yang bersangkutan juga tidak ditahan, termasuk saat pelimpahan berkasa perkaranya ke Kejari Tanjungpinang, tidak ada surat penahanan dari pihak kepolisian.

“Alasan lainnya, karena adanya jaminan dari pihak keluarga, bawah yang bersangkutan tidak akan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti (BB),” ucap Ricky.

Meskipun tidak ditahan, lanjut Ricky, tersangka Yon Fredi alias Anton, juga dikenakan wajib lapor selama dua kali dalam satu minggu, yakni setiap hari Senin dan Kamis.

“Tersangka kita kenakan wajib lapor dua kali dalam satu minggu ke kantor Kejari Tanjungpinang, sebelum perkaranya kita limpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang untuk disidangkan,” ucap Ricky.

Sebagaimana diberitakan, penangkapan bos Lobindo berdasarkan laporan yang dibuat oleh Aditya Wardana dari pihak PT Gandasari, tentang adanya dugaan penggelapan yang dilakukan oleh Anton.

Kemudian setelah dilakukan penyidikan dan dua alat buktinya lengkap oleh pihak Kepolisian Bintan, akhirnya tersangka Anton dijemput dari Kota Batam, Kamis (23/7) lalu.

Dalam kasus tersebut, tersangka Anton dituding telah melakukan pengambilan biji bauksit milik PT Gandasari sebanyak 50.000 ton tanpa sepengetahuan PT Gandasari.

Akibatnya, pihak korban (PT Gandasari) mengalami total kerugian sekitar Rp7,6 miliar.

Hendie Divitra SH MH, kuasa hukum PT Gandasari menjelaskan  pada awalnya antara PT Lobindo dan dan kliennya yakni PT Gandasari terjadi kesepakatan atas kepemilikan lahan bersama seluas 300 hektare di kawasan Kampung Kijang, Kelurahan Sei Nam Kecamatan Bintan Timur, yang tertera di atas sertifikat nomor 323 tanggal 2 Desember 1998.

Di atas lahan bersama tersebut, lanjutnya, antara keterikatan perjanjian yang tertuang dalam akta nomor 15 tanggal 26 November 2010 yang isinya menegaskan kepemilikan Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau Kuasa Pertambangan (KP) dipegang oleh pihak PT Lobindo.

Masih kata Hendie, akan tetapi, pada tanggal 16 Mei 2011 terjadi lagi kesepakatan, dimana pihak PT Lobindo menerima pembayaran uang dari kliennya sebesar US 5 Juta (Rp43 miliar). Dan berdasarkan surat kuasa tanggal 16 Mei 2011 yang ditandatangani oleh Yon Fredi alias Anton selaku Direktur PT Lobindo menyerahkan IUP atau KP kepada pihak PT Gandasari.

“Dari surat kuasa itu sebenarnya yang berhak melakukan segala aktifitas pertambangan dilahan tersebut adalah pihak PT Gandasari. Namun pada bulan Agustus 2013, pihak PT Lobindo melakukan pencabutan surat kuasa secara sepihak dan mengambil biji bauksit milik klien saya sekitar 50.000 ton,” beber Hendie di Bintan.(tim HK)

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *