Lantamal IV Tanjungpinang Tangkap Pencuri BMKT

ANGKATAN LAUTTANJUNGPINANG (bt)- Untuk kesekian kalinya, jajaran Lanlantamal IV Tanjungpinang mengamankan dan menangkap para pelaku kasus pecurian Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) di perairan Kabupaten Bintan.

Kali ini, penangkapan dilakukan terhadap 7 orang yang diduga sebagai pelaku aksi kejahatan pencurian BMKT di kawasan antara Pulau Mapor dan Nikoi pada Jumat (5/6) lalu sekitar pukul 18.30 WIB.

“Sebanyak tujuh orang yang kita amankan kali ini. Mereka kedapatan tengah berupaya menjalankan aksinya mengambil BMKT secara illegal, dengan menggunakan sejumlah peralatan penyelaman di perairan, Bintan,” ungkap Komandan Lanatamal IV Tanjungpinang, Laksamana Pertama (Laksma) Sulistyanto, didampingi Kabit PS DKP Provinsi Kepri Eddiwan, dan Kapolsek Pol Air Polres Tanjungpinang, serta sejumlah Perwira TNI AL di Markas Komando (Mako) Lantamal IV, JL Yosudarso, Batu Hitam Tanjungpinang, Provinsi Kepri, Sabtu (6/6).

Sulistyanto menjelaskan, pengungkapan kasus ini berawal adanya laporan dari warga Desa Kawal, Kabupaten Bintan dengan menyebutkan ada kegiatan penyelaman BMKT di sekitar lokasi tersebut.

Atas informasi itu, anggota patroli Posmal Kawal Satkamla Lantamal IV kemudian melakukan pengecehan ke lokasi kejadian pada Jumat pagi sekitar pukul 06.00 WIB.

“Pada saat itu petugas patroli kita telah mendapati sebuah speed boat berwarna merah mendekat ke lokasi penyelaman BMKT. Namun melihat kapal patroli Posmal kita saat itu, speed boat yang mereka gunakan langsung melarikan diri ke arah Pulau Mapor dan sulit terkejar,” ucap Sulistyanto.

Berselang kemudian, penangkapan akhirnya dapat dilakukan, ketika para pelaku itu kembali ke lokasi untuk melakukan penyelaman.

“Petugas patroli kita akhirnya berhasi menangkap mereka sekitar pukul 18.30 WIB pada Posisi 01 05′ 35″ U – 104 44′ 35″ T,” ungkapnya.

Saat penangkapan, lanjut Sulistyanto, pihaknya juga mendapati dua orang pelaku tengah berada di dalam laut, melalui alat penyelaman yang telah mereka siapakan.

“Sehingga posisi boat saat itu terhenti dan tidak bisa kabur lagi, meskipun pada pagi harinya mereka sempat kabur dan tidak terkejar. Speed boat yang mereka (pelaku) memiliki itu memamg kecepatan cukup tinggi,” ungkap Jenderal TNI AL berbintang satu di pundaknya ini.

Dari penangkapan itu, pihak lantamal IV pun telah menyita dari para pelaku beberapa peralatan yang digunakan sebagai barang bukti. Di antaranya speed boat, mesin tempel Yamaha 2×200 PK, GPS Portable 1 unit, kompresor sebanyak 1 unit, selang 2 gulung, masker 2 buah, airman (penyemprot lumpur) 1 unit.

Ia menerangkan, proses pengangkapan terhadap aksi para pelaku tersebut, karena mereka tidak memiliki izin untuk melakukan kegiatan penyelaman dan mengambil BMKT sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Hal lain, kegiatan penyelaman dengan kedalaman seperti itu juga sangat berbahaya, apalagi dengan peralatan tradisional yang mereka lakukan dapat berisiko fatal.

“Disamping tidak memilki izin, penyelaman yang mereka lakukan dengan alat tradisional sederhana seperti ini, yakni hanya menggunakan kompresor angin, itu sangat membahayakan bagi mereka sendiri. Bakan bisa menyebabkan kematian karena kedalamnya mencapai 20 hingga 30 meter,” terang Sulistyanto.

Lebih kanjut Sulistyanto mengimbau kepada masyarakat untuk tidak tergoda dengan iming-iming dari para cukong untuk melakukan penyelaman BMKT, mengambil barang-barang berharga peninggalan kapal tenggelam tanpa izin.

“Artinya, hasil yang mereka dapati dari para cukong nanti, tidak seimbang dengan taruhan nyawa, termasuk cacat fisik tubuh dari para pelaku penyelaman tersebut,” ucap Sulistyanto.

Ia menjelaskan, bahawa pihaknya tidak pernah melarang keterlibatan masyarakat dalam pengambilan BMKT tersebut, asalkan harus melalui prosedur hukum dan perizinan yang berlaku saat ini.

“Dari zaman dahulu, perairan Kepri ini merupakan jalur perdagangan dunia. Banyak bangkai-bangkai kapal yang tenggaelam di bawah laut,” ungkpanya.

Sehingga dengan telat keluarnya Moratorium BMKT melalui perizinan, maka masyarakat telah bisa berpartisipasi melakukan pengambilan.

“Namun yang tidak memilki izin adalah perbuatan ilegal yang diancam hukuman sampai 4 tahun penjara,” katanya.

Di tempat yang sama, Kabid Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Kepri, Eddiwan menerangkan, saat ini baru satu perushaan yang mengantongi izin BMKT di wilayah Kepri.

Sedangkan menurutnya, ada terdapat 300 bangkai kapal yang telah terindentifikasi di perairan Kepri. Ia juga mengungkapakan terdapat ribuan bangkai kapal jaman dahulu yang berada di perairan Kepri.

“Masyarakat telah bisa berpartisipasi melakukan pengambilan BMKT tersebut dengan mengurus periznannya melalui Kementrian, termasuk izin dari kepala daerah setempat,” terangnya.(HK nel)

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *