Pulau Bayan, Istana Kecil Milik Pahlawan

DSCN1404TANJUNGPINANG – (bt)-Pulau Bayan di Selat Riau pada masa jaya Kerajaan Riau Johor ternyata merupakan tempat yang sangat penting dan strategis. Di pulau inilah pahlawan nasional, Raja Haji fi Sabilillah (RHF) merancang strategi perangnya melawan pasukan Belanda. Termasuk strategi untuk mempertahankan dan mengamankan pusat kerajaan di Hulu Riau dari serangan Belanda. Di pulau ini juga RHF memiliki sebuah istana kecil sebagai tempat kediamannya yang dibangun sekitar tahun 1781.

Setelah RHF kalah, istana itu dijadikan kediaman Residen Belanda pertama di Riau. Hal tersebut disampaikan pakar sejarah Kepri, Aswandi Syahri, menyusul hasil temuannya di Arsip Nasional, Jakarta. Aswandi menemukan duplikat peta Pulau Bayan tahun 1785 buatan Belanda di Arsip Nasional, Jakarta, yang aslinya disimpan di Netherland Scheepvartmuseum Amsterdam.

Peta pulau Bayan yang dibuat Jacob van Bram seorang komandan pasukan Belanda yang mengalahkan Raja Haji fi Sabilillah di Teluk Ketapang, Melaka, Malaysia. Pascakemenangan itu dan masih di tahun 1784, Jacob datang ke Tanjungpinang untuk survei penempatan pasukan garnisun. Sekaligus mencari kediaman residen pertama Belanda di Riau, David Ruhde. Saat itu Tanjungpinang dan Pulau Penyengat belum berkembang dan Pulau Bayan yang akhirnya dipilih untuk pangkalan pasukan dan kediaman residennya. Pilihan ke Pulau Bayan dilaksanakan dengan pertimbangan matang. Salah satunya karena di pulau itu dibangun seperti benteng yang kokoh. Kemudian di dalam benteng itu terdapat istana kecil kediaman Raja Haji fi Sabilillah.

Istana yang dibentengi itu dibangun sekitar tahun 1781, memang dipersiapkan untuk menghadapi pasukan Belanda pada masa tersebut. Benteng dari tembok mengelilingi istana tingginya sembilan kaki (sekitar 3 meter) dan tebalnya dua kaki (sekitar setengah meter). Di sebelah barat atau di depan istana ada sekitar delapan pucuk meriam,’’ kata Aswandi Syahri menjawab Tanjungpinang Pos, kemarin.

Kini, bekas tapak benteng atau bekas kedudukan meriam dan bahkan bekas kedudukan istana RHF nyaris sudah hilang sama sekali. Di lokasi yang diperkirakan bekas kedudukan istana itu sudah berubah menjadi kolam renang yang juga tidak berfungsi. Di sebelah selatan pulau (mengarah ke Tanjungpinang sekarang, red), ujar Aswandi, ada dam batu yang menghalangi apapun yang berlayar untuk masuk ke arah pusat kerajaan ketika itu di hulu Selat Riau.

Sedangkan di sebelah selatan (mengarah ke Kampung Bugis sekarang,red) ada dam dari kayu yang fungsinya sama dengan dam batu. Selain itu, di belakang tembok benteng atau di sebelah timur pulau ada sekitar 12 bangunan pendukung lainnya. Saat ini bagian timur yang ada di peta tersebut sudah habis terkikis arus laut.

Dengan lokasinya yang strategis dan kokohnya pertahanan di pulau kecil itu, wajar jika Belanda menjadikannya sebagai kediaman residennya yang pertama di Riau. Namun, Belanda kemudian melihat posisi Tanjungpinang saat ini lebih strategis dan kemudian membuat masterplan pembangunan kota di tahun 1790-an.

Di Tanjungpinang dibangun gedung residen (kini Gedung Daerah, red), gedung mesiu, benteng bawah (sekitar Gedung Daerah) dan benteng di atas bukit (eks Top View Hotel). Di akhir 1790-an Belanda memindahkan pusat pemerintahannya dari Pulau Bayan ke Tanjungpinang. Pulau Bayan kemudian menjadi kediaman Raja Ali Marhum Pulau Bayan sejak sekitar 1800-an,’’ terang Aswandi.

Setelah pusat kerajaan berpindah ke Lingga dan Pulau Penyengat berkembang, Pulau Bayan ditinggalkan. Belanda kemudian menjadikannya sebagai gudang arang batu. Fungsi itu kemudian dilanjutkan Jepang saat berkuasa di Tanjungpinang. Jepang juga menjadikan Pulau Bayan sebagai tempat galangan kapalnya. Kini, pulau itu hanya menjadi bekas bangunan resor yang melapuk ditelan usia.

sumber:kepri satu.com

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *