Gubernur Tawarkan Investasi Perikanan dan Pariwisata ke Jepang

jepang1resize

TANJUNGPINANG -(BT)-Gubernur H Muhammad Sani menawarkan peluang investasi sektor perikanan dan kelautan serta pariwisata kepada sejumlah investor Jepang. Hal itu disampaikan Gubernur saat menerima Konsul Jepang di Medan Hirofumi Morikawa di Lantai 7 Graha Kepri, Batam, Kamis (21/5/2015).

Saat ini, ada 30 investor Jepang yang berinvestasi di Kepulauan Riau, khususnya Batam. Sebanyak 200 warganya beraktivitas di perusahaan-perusahaan tersebut. Hirofumi mengaku tawaran investasi itu sangat menarik karena warga Jepang menyukai ikan, terutama tuna yang saat ini penangkapannya terus menurun. Sementara untuk pariwisata, orang Jepang sangat menggemari golf namun biaya di sana sangat mahal. Dan mereka tahu kalau di Kepri cukup murah. Saat ini jumlah wisatawan Jepang ke Kepri masuk dalam peringkat lima setelah Singapura, Malaysia, Korea dan China. Karena itu Gubernur juga mengajak warga Jepang untuk menjadikan Kepri sebagai tujuan wisatanya. Selain golf, banyak jenis wisata yang bisa dinikmati, tidak ada salahnya juga jika ada investor dari Jepang langsung berinvestasi kawasan resort atau perhotelan dengan lapangan golfnya langsung. Tentu ini akan menjadi daya tarik sendiri.

Sementara untuk industri perikanan, Gubernur Sani memaparkan tiga konsep pengembangan usahanya. Selain perikanan tangkap dan budidaya, yang penting adalah industri perikanan. Sehingga tidak hanya ikan segar yang dibawa ke Jepang tetapi juga dalam bentuk olahan. Harofumi mengakui, meski sudah ada tiga puluh perusahaan Jepang berinvestasi di Kepri namun nama Batam dan Kepri belum terlalu terkenal di Negeri matahari Terbit tersebut,termasuk juga dengan pariwisatanya. Karena itu dia berharap Pemprov Kepri gencar melakukan promosi ke Jepang. Dalam kesempatan itu, Hirofumi yang datang didamping Vice Konsul Takayuki Kawai mengatakan, dia sudah melakukan pertemuan dengan sejumlah perusahaan Jepang yang ada di Batam. Dia merasakan situasi disini sangat bagus. Namun ada beberapa perusahaan yang mengkhawatirkan upah yang tiap tahun naik makin tinggi. Untuk mensiasatinya kata Hirofumi, beberapa perusahaan sudah mencoba melangsingkan organisasi. Termasuk menghemat biaya produksi. Mantan Konsul Jepang untuk Kota Kinabalu Malaysia ini mengakui strategi masing-masing perusahaan ini berhasil.

Soal upah menurut Gubernur, memang wajar jika ada permintaan untuk meningkat. Barangkali ini karena kenaikan sejumlah harga yang kadang pasokannya dari luar Batam. Kenaikan BBM, kurs mata uang ikut memberi pengaruh terhadap masalah ini. Tapi semuanya tetap kita atasi dengan musyawarah dan mengedepankan keamanan sehingga tidak menganggu aktivitas perusahaan. “Yang paling penting adalah pemerintah tetap menjaga jangan sampai investasi di Batam dan Kepri terganggu,” kata Sani.

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *