Minimalisir Angka Kecelakaan Kerja, Dinsosnaker Kota Tanjungpinang Gelar Bimtek SMK3

smk3 keselamatan kerja

TANJUNGPINANG-(BT)-Angka kecelakaan kerja maupun angka kematian akibat kecelakaan kerja di Kota Tanjungpinang memang tidak pernah menunjukkan jumlah yang signifikan. Namun bukan berarti hal tersebut bisa disepelekan begitu saja. Perlahan tapi pasti, angka tersebut harus dinihilkan demi terwujudnya lingkungan kerja yang kondusif di Kota Tanjungpinang. Salah satu upaya yang dilakukan Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan (Dinsosnaker) Kota Tanjungpinang menggelar bimbingan teknis Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sekaligus penyuluhan Perlindungan Terhadap Pekerja Perempuan, Rabu (6/5), di aula Kantor Dinsosnaker Kota Tanjungpinang.

Diakui Surjadi, selaku Kepala Dinsosnaker, kegiatan tersebut memang sudah lama tidak dilakukan. Untuk mencegah terjadinya kematian dan kecelakaan kerja yang tidak terlindungi, maka para pengusaha dan pekerja wajib diingatkan kembali akan hak dan kewajiban masing-masing. Sejalan dengan hal tersebut, dilaksanakan pula penyuluhan perlindungan terhadap pekerja perempuan mengingat kaum perempuan juga memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki akan kesempatan kerjanya. Hanya saja, lanjut Surjadi, perempuan memiliki keistimewaan tersendiri dikarenakan kondisi biologisnya seperti menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Dengan demikian harus diperhatikan pula hak dan kewajibannya secara spesifik.

Dikataka Lis, Tanjungpinang memang bukan kota besar, dan bukan pula kota industry mengingat hanya ada 564 perusahaan besar dan kecil yang beroperasi di Kota Gurindam ini. Namun bukan berarti hak dan keselamatan pekerja boleh diabaikan. “Organisasi wajib melakukan audit keselamatan kerja yang disesuaikan dengan perkembangan perusahaannya. Hal tersebut harus dilakukan secara tersistim dan terstruktur.” Kata Lis. Perusahaan dan pekerja merupakan asset pemerintah daerah. Oleh karena itu, lebih lanjut dikatakan Lis, keduanya harus dilindungi baik dari aspek investasinya maupun hak pekerja.

Lis mengungkapkan, tahun 2014 sebanyak 76 orang dilaporkan meninggal dan mengalami kecelakaan kerja. 15 diantaranya perempuan dan 60 orang laki-laki. Sementara, 1 orang meninggal. “Untuk tahun 2015, dari 2 Januari – 31 Maret, Dinsos sudah mencatat sudah ada 15 orang yang mengalami kecelakaan kerja dan 1 orang meninggal dunia. Memang jumlahnya tidak besar, tapi itu harus menjadi perhatian.” Ujar Lis. “Minimnya jumlah kematian dan kecelakaan kerja tentunya bisa meningkatkan produktifitas sekaligus menciptakan iklim kerja yang kondusif pula.” Katanya.

Kegiatan ini sendiri berlangsung selama 2 hari mulai tanggal 6-7 Mei dan diikuti sebanyak 100 orang peserta dari 60 perusahaan. Dinsos juga menghadirkan narasumber diantaranya dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.***

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *