Triwulan 3, Perekonomian Kepri Menguat

Triwulan 3, Perekonomian Kepri Menguat
Triwulan 3, Perekonomian Kepri Menguat

Berita Tajungpinang – Batam, Perekonomian Kepri pada triwulan III tahun 2014 mengalami pertumbuhan. Jika nasional melambat, Kepri tumbuh 6,89 persen atau menguat dibanding periode yang sama tahun lalu, sekitar 6,33 persen.

Selain itu, investasi juga mengalami peningkatan. Sementara, total impor barang modal di Kepri sekitar 424,91 juta Dolar Amerika Serikat.
Demikian disampaikan Kepala Kantor Bank Indonesia KepriGusti Raizal Eka Putra, Jumat (28/11).Peningkatan investasi ditopang peningkatan impor barang moda dan alat angkut industri.

“Pertumbuhan barang modal sebesar 34,53 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya, sekitar 16,28 persen,” ujarnya.

Pertumbuhan barang modal karena ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi. Konsumsi rumah tangga ditopang oleh peningkatan konsumsi saat Lebaran, liburan sekolah, dan tahun ajaran baru. Tunjangan Hari Raya dan gaji ke-13 juga meningkatkan daya beli masyarakat.

Sementara itu, inflasi yang mengalami tren penguatan di triwulan ke III, mendorong pertumbuhan konsumsi. Tren penguatan investasi juga berlangsung di triwulan ke II. Penguatan investasi itu tercermin dalam peningkatan barang impor barang modal yang didukung kondisi sosial politik yang tetap kondusif pascaPilpres.

“Mudah-mudahan, demo buruh mengenai UMK tak berkepanjangan. Kalau demo berkepanjangan, maka akan berdampak pada investasi,” sebut Gusti.

Diungkapkannya, terjadi penguatan pertumbuhan pada sektor industri pengolahan dan perdagangan, hotel, serta restoran di Kepri. Industri pengolahan menjadi penyeimbang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepri dengan sumbangsih 46,8 persen dari total PDRB.

“Industri pengolahan di Kepri ditopang subsektor logam dasar, besi, dan baja,” jelasnya.

Gusti meyakini, pada triwulan IV, diperkirakan perekonomian Kepri akan menguat. Penguatan diperkirakan ditopang penguatan konsumsi rumah tangga, pemerintah, dan investasi.

“Kami memperkirakan, terjadi peningkatan pada kisaran 6,9 sampai 7,1 persen,” prediksinya.

Selain itu, laju inflasi triwulan IV, diperkirakan pada kisaran 6,2 sampai 6,5 persen. Secara keseluruhan, inflasi tahun 2014 diperkirakan sekitar 6,2 sampai 6,4 persen.

“Potensi kenaikan harga di akhir tahun menjadi penyumbang inflasi,” jelas Gusti.

Potensi lain disebabkan kenaikan harga BBM bersubsidi yang diperkirakan dapat menyebabkan keterbatasan pasokan sejumlah komoditas makanan. Penyebab lainnya yaitu penurunan hasil panen dan cuaca menghambat aktivitas nelayan.

Sementara itu, untuk menghadapi dampak harga BBM serta keterbatasan pasokan, diusulkan agar pemerintah menjaga kelancaran pasokan. Kecukupan pasokan dan distribusi barang harus dijaga agar tidak menekan kenaikan harga.

“Bisa dilakukan kerja sama dengan daerah terdekat di Kepri,” pesannya.

Ia menyarankan, peran Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kepri ditingkatkan dalam mengkoordinasikan kegiatan TPID kabupaten dan kota. (MARTUA /Tanjungpinangpos)

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *