Masalah Tak Selesai, Lurah Dihujat

sambungan-spanduk-hujatan-600x330TANJUNGPINANG – Permasalahan sengketa lahan di Tanjungpinang makin menonjol. Selain, Menhut RI beberapa waktu lalu menerbitkan SK yang menyebut mayoritas lahan di Ibukota Provinsi Kepri ini merupakan hutan lindung, ternyata antar warga juga saling klaim sebagai pemilik lahan. Bahkan, pihak-pihak yang kecewa dengan lurah yang tidak bisa menyelesaikan administrasi lahan, malah menghujat lurahnya di spanduk.

Seperti yang terlihat di Batu 8, Tanjungpinang Timur ini. Karena upaya mediasi tak juga selesai membuat pihak ahli waris Abu Talib mencurigai pihak kelurahan melindungi orang-orang yangmengklaim pemilik tanah mereka.

“Lurah melindungi pengusaha yang memiliki dokumen bodong. Saksi dari RT dan RW yang sampai sekarang masih hidup mengakui kalau lahan seluas 8.000 meter ini milik keluarga kami,” kata Ani Sriwati, selaku anak kedua dari Abu Talib.

Hal itu, sambung Ani Sriwati, pihak kelurahan tidak mau menandatangani dokumen sporadis yang diajukan keluarganya.

“Selain RT dan RW kami juga ada tandatangan sepadan lahan. Hanya sepadan yg sebelah kiri jalan yg tak mau menandatatangi, karena mereka yang mengklaim lahan kami ini milik mereka,” ucap Ani dengan nada tinggi.

Sementara itu, Lurah Air Raja, Hafizah, yang dihubungi Tanjungpinang Pos menyebutkan, pihaknya sudah sering melakukan mediasi. Karena tidak membuahkan hasil hingga Hafizah mengaku tak bisa berbuat banyak.

“Kalau surat sporadis yang mereka ajukan, ya saya memang tak berani tandatangan. Tak mungkin saya tandatangan surat yang diklaim oleh tiga pemilik,” kata Hafizah. Bahkan, sambung Hafizah, permohonan dokumen sporadis itu sudah diajukan oleh ahli waris Abu Talib pada lurah sebelumnya dan saat itu lurahnya tidak juga mau menandatangani berkas itu.

“Kalau saya tandatangani, saya bisa dipersalahkan oleh pihak-pihak lain yang juga mengaku sebagai pemilik lahan,” ucapnya.

Sementara, Ani Sriwati selaku pemilik lahan mengaku sudah berupaya untuk melengkapi dokumen yang ia miliki. Meski ketua RT dan RW secara tertulis sudah mengakui hal itu dan dikuatkan dengan surat pengembalian lahan dari PT Antam, namun ia tidak juga bisa mendapat tandatangan dari lurah setempat.

“Kami orang kecil bagai dipermainkan. Orang kaya dan pejabat. Belakangan ini kami juga diintimidasi. Padahal, kami sudah menempati lahan ini sejak 30 tahun lalu,” kata Ani yang didampingi anak-anak dan adik-adiknya, kemarin.(jek,Tanjungpinangpos)

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *