Empat Korban Kapal Kargo Dirawat

utama-3-Kelana-Dewi-Tergeletak-dan-Menunjukan-Ronsen-Tulang-Patah.-Pompong-Ditabrak-Kargo-Memilih-Jalur-Mediasi-copy 

Tanjungpinang – Kecelakaan laut terjadi di perairan Tanjungpinang. Kapal kayu (pompong) yang sedang berlayar  dari Kampung Bugis ke Pelantar 1 Tanjungpinang ditabrak Kapal Kargo yang saat itu baru sampai di perairan Tanjungpinang setelah berlayar dari Tanjungbatu, Sabtu (2/8).

Menurut warga setempat, saat kejadian, anggota Satuan Polisi Air (Satpolair) Tanjungpinang yang kebetulan berpatroli langsung membantu penyelamatan penumpang di atas pompong serta menghentikan laju kapal kargo itu.

Enam orang penumpang pompong yang tertabrak dan sempat terapung di perairan namun berhasil ditolong dengan cepat lantas dilarikan ke RSUD Tanjungpinang. Sampai Minggu siang, korban tabrakan kapal masih menjalani rawat inap ada sekitar empat orang.

”Saya antar pasien pulang ke Pangkil. Tak jauh dari lokasi adaPangkil. Tak jauh dari lokasi ada kejadian itu. Jadi sekalian kami bawa korbannya,” ungkap Abdul, petugas ambulans RSUD yang membawa korban dari Pelantar satu ke RSUD. Sebagian besar korban kecelakaan laut itu mengalami luka-luka.

Para korban yang dirawat itu, diantaranya Dewi Kejora, dirawat di ruang Bougenfile RSUD Tanjungpinang, satu ruangan dengan Marlisa dan Andi Nurmaidah korban lainnya. Sementara Asmiati korban lain yang cukup banyak meminum air laut dipisahkan ruangannya ke ruang Mawar.

Saat ditemui Minggu (3/8) kemarin, Dewi mengalami patah tulang pada ruas tangannya. Hasil rontgen kedokteran menunjukkan patah pada tangannya tersebut harus segera dioperasi. Saat ditunjukkan oleh pihak keluarga, rontgen patah tangan itu menunjukkan ada 2 bagian ruas batang pada tangan yang mengalami patah tebu.

”Tadi dokter nyarankan dioperasi. Tapi, saya pilih mau berobat di sinse (pengobatan alternatif) saja. Takut mau dipasang besi katanya. Biayanya juga mahal,” kata Dewi.

Selain itu, kondisi Dewi mendapati luka lebam pada bagian pahanya. Untuk korban Andi Nurmaidah mengalami luka lebam yang cukup besar di pinggangnya. Rasa nyeri akibat benturan membuat Nurmaidah sesekali merintih karena menahan sakitnya. Sementara, untuk Marlisa yang pernah operasi sesar akhirnya harus menahan sakit yang tak terhingga karena terlalu lama terapung di tengah laut sebelum ada warga yang membantu.

“Istri saya terlalu banyak minum air laut. Dia juga habis operasi sesar di perutnya,” ungkap Salim suami Marlisa yang ikut menjadi korban selama bersama anaknya Salfita.

Asmiati yang dirawat di ruangan Mawar saat kejadian serta merta langsung lemas. Menurut keterangan Dewi, Asmiati terlalu sering berteriak dan akhirnya terlalu banyak minum air.

“Kayaknya karena mekik-mekik minta tolong saat berenang akhirnya paling banyak terminum air,” ungkap Dewi.

Ketika Asmiati ditemui, ia hanya mengatakan kerugian materi yang dideritanya. Tas yang berisikan uang dan harta bendanya yang tenggelam ditaksir hampir sekitar Rp 15 juta.

“Uang, handphone, gelang berlian saya di lengan. Surat-surat penting hingga buku nikah saya ada di dalam tas. Tenggelam semua,” ungkap Asmiati.

Kronologi awal mula kejadian, kapal kargo yang membawa buah-buahan dari Tanjung Batu itu awalnya sempat menghentikan kecepatannya. Hanya saja, karena kondisi pemberhentian di atas laut tak bisa terkendalikan lagi, akhirnya kapal kargo tetap menabrak pompong yang berhenti di tengah laut tersebut.

Ternyata diketahui, pompong yang tertabrak sempat mengalami kondisi mogok di tengah jalur lintasan kargo. Hingga, akhirnya kapal kargo melintas yang tak bisa mengelakan takbrakan. “Tak ada yang terpikir mau loncat dari pompong. Takut kena kipas,” kata Dewi yang menceritakan kronologis kejadian.

Usai kejadian tersebut, para perwakilan korban akhirnya dipangil oleh Satpolair untuk dimediasikan dengan kapten kapal kargo pada pukul 13.00 WIB Minggu, (3/8) kemarin. Kanit Pegakan Hukum Satpolair Tanjungpinang, Geofani CSN  yang memimpin mediasi tersebut mengabarkan, korban dan pelaku telah diarahkan untuk ke arah proses damai secara kekeluargaan.

“Yang penting, kapten kapal itu sudah mau bertanggungjawab untuk kerugian korban terlebih dahulu. Beruntung kapten itu punya itikad baik. Yang rugi barang diganti. Yang sakit diobati. Untuk proses hukum sementara mereka memilih jalur damai,” kata Geofani. (M. Indra Kelana)

sumber :tanjungpinangpos.co.id

 

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *