Penggusuran Ruli dekat Komplek Perum Koperasi PLN Ricuh

Pengusuran Sempat ricuh,warga yang tidak bersedia digusur menghalangi tim terpadu
Pengusuran Sempat ricuh,warga yang tidak bersedia digusur menghalangi tim terpadu

BATAM_(BT)- Warga Rumah Liar (Ruli) Komplek PLN mengaku tidak terima ketika Tim Terpadu yang terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) didampingi dengan aparat kepolisian dan TNI AD hendak menggusur pemukiman yang sudah sekitar 10 tahun mereka tempati, Senin (16/12) pagi. Pasalnya, warga belum menerima dana ganti rugi dari pihak Pemko Batam.

Salah seorang warga, Usman (36) mengatakan, penggusuran yang dilakukan oleh Tim Terpadu tidak sesuai dengan hasil rapat dengar pendapat di Komisi I DPRD Kota Batam, beberapa waktu lalu. “Terakhir kali rapat di Komisi I DPRD Batam, katanya tidak akan ada penggusuran sebelum warga menerima ganti rugi. Tapi ini mendadak digusur. Kami mau tinggal dimana?,” katanya.

Menurut Usman, warga sudah 3 kali mengadakan rapat dengan Tim Terpadu di Komisi I DPRD Batam. Namun, hingga saat ini, rapat tersebut belum menghasilkan keputusan apapun. Warga Ruli Komplek PLN yang berjumlah 46 Kepala Keluarga tersebut juga merasa kecewa. Pasalnya, Kepala Satpol PP, Tim Terpadu dan Walikota Batam tidak pernah hadir.

Usman dan warga lainnya mengaku meminta ganti rugi sesuai dengan bangunan yang sudah mereka tempati. “Ibaratnya berikanlah kami uang paku. Kalau punya uang, bisalah kami cari rumah lagi. Ya minimalnya Rp5 juta,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Alberto. Dirinya mengaku sudah menempati lahan komplek perumahan PLN tersebut sejak tahun 1999. “Dari jaman di sini masih hutan. Jalan ini juga dulu belum ada,” katanya. Alberto mengatakan, bahwa dirinya menerima penggusuran asalkan pemerintah memberikan ganti rugi. “Kami mau Natalan, sementara rumah tidak ada. Kemana kami mau pergi. Kami disuruh tinggal di Ruli dan bayar satu kamar Rp400 ribu. Bayangkan saja, satu kamar Rp400 ribu. Sekarang kami digusur mendadak seperti ini. Kemana kami mau pergi,” ujar Alberto lagi.

Kemarin, Tim Terpadu mendatangi lokasi sekitar pukul 09.00 WIB. Beberapa anggota polisi dan Satpol PP berjaga- jaga di simpang tiga depan kantor Camat Batam Kota tersebut.

Masyarakat yang hendak melintas di jalan raya depan Ruli Komplek Perumah PLN tersebut, diarahkan untuk melalui jalan lain atau ke arah simpang KDA.

Sebagian warga pemilik ruli hanya mampu terdiam saat tim terpadu berusaha merobohkan bangunan yang biasa mereka tempati. Beberapa orang lainnya terlihat berusaha membongkar bangunan miliknya sendiri. Namun, beberapa orang lainnya terlihat tidak terima atas penggusuran tersebut. Bahkan salah seorang ibu- ibu paruh baya terlihat memegang bendera merah putih sambil berteriak, “Kami ini juga masyarakat Indonesia. Kami punya hak. Kalau kami digusur, kami mau tidur dimana. Apa kami harus tinggal di bawah kolong jembatan Barelang.”.

Aksi penertiban yang awalnya berjalan lancar berubah menjadi bentrok ketika beberapa orang warga yang enggan digusur berdebat dengan petugas. Aksi saling dorong antar warga dan petugas tak bisa terelakan lagi. Bahkan, salah seorang warga dan petugas hampir saja adu jotos.

Beberapa ibu- ibu hanya mampu berteriak dan menangis sembari menggendong anak- anaknya yang masih balita. Bahkan, Asmuni, salah seorang warga mengalami luka sobek di bagian dahi akibat mendapat pukulan dari seroang anggota Satpol PP. “Kami tadi mau nolong yang pingsan, tapi malah kami dikeroyok sama Satpol PP. Itu teman kami, Asmuni luka karena dikeroyok,” kata Alberto lagi.

Sementara itu, pihak Tim Terpadu masih enggan berkomentar. Demikian juga saat Posmetro berusaha meminta keterangan dari Ashraf, Sekretaris Kecamatan Batam Kota. “Saya belum bisa ngomong dululah,” katanya. Hal yang sama juga diutarakan oleh Khairuddin, Lurah Belian yang menyaksikan penggusuran tersebut. “Nanti sajalah. Lagian saya tidak berkompeten untuk berbicara hal ini,” katanya.

Kabid Ketertiban Umum Satpol PP, Syaifrul Bahri menjelaskan, bahwa pemerintah sudah menghimbau warganya untuk meninggalkan tempat itu, karena akan dibuat jalan dua arah, dia juga mengatakan bahwa Kantor Kecamatan Batam Kota juga sudah melakukan Pendataan, Rapat Sosialisasi dan Surat Peringatan.

Tercatat sudah tigakali Surat Peringatan (SP) dikeluarkan Kecamatan Batam Kota, tetapi warga yang masih ngeyel ingin tetap tinggal di sana. Setiap SP dikirim diberi jenjang sekitar satu minggu. “SP1, SP2, SP3 sudah kami berikan, tetapi warga tidak membongkar tempatnya sendiri, terpaksa petugas yang membongkar,” ujar Bahri dengan tegas.

Syaifrul Bahri juga mengatakan, bahwa warga yang rumahnya digusur dan tidak mempunyai tempat tinggal akan diberi solusi untuk tinggal di Rumah Susun. “Untuk urusan rumah susun itu tanggung jawab Pemko, kita bicarakan nanti,” ujarnya.

Sri Handini (49), seorang warga, mengaku berat kalau dipindahkan ke Rusun. “Harus bayar Rp500 ribu per bulan, uang dari mana?, kita ini pemulung,” ujarnya(posmetrobatam,aini lestari/*1)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BATAM-(bt)-Warga Rumah Liar (Ruli) Komplek PLN mengaku tidak terima ketika Tim Terpadu yang terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) didampingi dengan aparat kepolisian dan TNI AD hendak menggusur pemukiman yang sudah sekitar 10 tahun mereka tempati, Senin (16/12) pagi. Pasalnya, warga belum menerima dana ganti rugi dari pihak Pemko Batam.

Salah seorang warga, Usman (36) mengatakan, penggusuran yang dilakukan oleh Tim Terpadu tidak sesuai dengan hasil rapat dengar pendapat di Komisi I DPRD Kota Batam, beberapa waktu lalu. “Terakhir kali rapat di Komisi I DPRD Batam, katanya tidak akan ada penggusuran sebelum warga menerima ganti rugi. Tapi ini mendadak digusur. Kami mau tinggal dimana?,” katanya.

Menurut Usman, warga sudah 3 kali mengadakan rapat dengan Tim Terpadu di Komisi I DPRD Batam. Namun, hingga saat ini, rapat tersebut belum menghasilkan keputusan apapun. Warga Ruli Komplek PLN yang berjumlah 46 Kepala Keluarga tersebut juga merasa kecewa. Pasalnya, Kepala Satpol PP, Tim Terpadu dan Walikota Batam tidak pernah hadir.

Usman dan warga lainnya mengaku meminta ganti rugi sesuai dengan bangunan yang sudah mereka tempati. “Ibaratnya berikanlah kami uang paku. Kalau punya uang, bisalah kami cari rumah lagi. Ya minimalnya Rp5 juta,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Alberto. Dirinya mengaku sudah menempati lahan komplek perumahan PLN tersebut sejak tahun 1999. “Dari jaman di sini masih hutan. Jalan ini juga dulu belum ada,” katanya. Alberto mengatakan, bahwa dirinya menerima penggusuran asalkan pemerintah memberikan ganti rugi. “Kami mau Natalan, sementara rumah tidak ada. Kemana kami mau pergi. Kami disuruh tinggal di Ruli dan bayar satu kamar Rp400 ribu. Bayangkan saja, satu kamar Rp400 ribu. Sekarang kami digusur mendadak seperti ini. Kemana kami mau pergi,” ujar Alberto lagi.

Kemarin, Tim Terpadu mendatangi lokasi sekitar pukul 09.00 WIB. Beberapa anggota polisi dan Satpol PP berjaga- jaga di simpang tiga depan kantor Camat Batam Kota tersebut.

Masyarakat yang hendak melintas di jalan raya depan Ruli Komplek Perumah PLN tersebut, diarahkan untuk melalui jalan lain atau ke arah simpang KDA.

Sebagian warga pemilik ruli hanya mampu terdiam saat tim terpadu berusaha merobohkan bangunan yang biasa mereka tempati. Beberapa orang lainnya terlihat berusaha membongkar bangunan miliknya sendiri. Namun, beberapa orang lainnya terlihat tidak terima atas penggusuran tersebut. Bahkan salah seorang ibu- ibu paruh baya terlihat memegang bendera merah putih sambil berteriak, “Kami ini juga masyarakat Indonesia. Kami punya hak. Kalau kami digusur, kami mau tidur dimana. Apa kami harus tinggal di bawah kolong jembatan Barelang.”.

Aksi penertiban yang awalnya berjalan lancar berubah menjadi bentrok ketika beberapa orang warga yang enggan digusur berdebat dengan petugas. Aksi saling dorong antar warga dan petugas tak bisa terelakan lagi. Bahkan, salah seorang warga dan petugas hampir saja adu jotos.

Beberapa ibu- ibu hanya mampu berteriak dan menangis sembari menggendong anak- anaknya yang masih balita. Bahkan, Asmuni, salah seorang warga mengalami luka sobek di bagian dahi akibat mendapat pukulan dari seroang anggota Satpol PP. “Kami tadi mau nolong yang pingsan, tapi malah kami dikeroyok sama Satpol PP. Itu teman kami, Asmuni luka karena dikeroyok,” kata Alberto lagi.

Sementara itu, pihak Tim Terpadu masih enggan berkomentar. Demikian juga saat Posmetro berusaha meminta keterangan dari Ashraf, Sekretaris Kecamatan Batam Kota. “Saya belum bisa ngomong dululah,” katanya. Hal yang sama juga diutarakan oleh Khairuddin, Lurah Belian yang menyaksikan penggusuran tersebut. “Nanti sajalah. Lagian saya tidak berkompeten untuk berbicara hal ini,” katanya.

Kabid Ketertiban Umum Satpol PP, Syaifrul Bahri menjelaskan, bahwa pemerintah sudah menghimbau warganya untuk meninggalkan tempat itu, karena akan dibuat jalan dua arah, dia juga mengatakan bahwa Kantor Kecamatan Batam Kota juga sudah melakukan Pendataan, Rapat Sosialisasi dan Surat Peringatan.

Tercatat sudah tigakali Surat Peringatan (SP) dikeluarkan Kecamatan Batam Kota, tetapi warga yang masih ngeyel ingin tetap tinggal di sana. Setiap SP dikirim diberi jenjang sekitar satu minggu. “SP1, SP2, SP3 sudah kami berikan, tetapi warga tidak membongkar tempatnya sendiri, terpaksa petugas yang membongkar,” ujar Bahri dengan tegas.

Syaifrul Bahri juga mengatakan, bahwa warga yang rumahnya digusur dan tidak mempunyai tempat tinggal akan diberi solusi untuk tinggal di Rumah Susun. “Untuk urusan rumah susun itu tanggung jawab Pemko, kita bicarakan nanti,” ujarnya.

Sri Handini (49), seorang warga, mengaku berat kalau dipindahkan ke Rusun. “Harus bayar Rp500 ribu per bulan, uang dari mana?, kita ini pemulung,” ujarnya(Posmetrobatam ,aini lestari/*1)

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *