Pok Siu Chin Tewas di Tangga Rumah, Suami Meninggal Di Singapura, Anak Yatim Piatu

Pok Siu Chinkarimun-(beritatanjungpinang.com)-Buru-buru Aseng pergi ke rumah Pok Siu Chin alias Merry, Sabtu (41), ketika ia ditelepon oleh Kev, balita yang masih berumur empat tahun. Pada pengasuhnya itu, Kev mengatakan bahwa ibunya, Merry, terjatuh. Dengan perasaan panik, Aseng segera datang ke rumah nomor 33, Jalan Pramuka, Sei Lakam, Karimun, untuk mengetahui keadaan Merry.

Saat Aseng tiba di rumah Merry, pintu depan rumah masih dalam keadaan terkunci. Ia kemudian melihat Kev berada di depan pintu rumah sambil menangis. Kev kemudian membukakan pintu untuk Aseng. Setelah Aseng masuk, betapa terperanjatnya Aseng. Saat datang, ia sudah melihat Merry sudah tak bernyawa. Tubuhnya tergeletak di tangga menuju lantai 2. Tubuh Merry tewas dalam posisi separuh telungkup, dengan kepala tergeletak di lantai. Semetara kedua kakinya terlipat ke belakang dan tersandar di dinding rumahnya.

“Saat itu saya ditelepon anaknya Kev, katanya ibunya jatuh, saya terima telepon itu pukul 14.00 WIB, kemudian saya langsung menuju rumahnya,” Aseng menjelaskan. Aseng mengaku, meski masih berumur empat tahun, Kev sudah terbiasa menelepon dirinya. “Dia ada les, dan sudah tahu nomor saya,” tambah Aseng lagi.

Sekitar pukul 15.00 WIB, kabar tewasnya Pok Shiu Cin diterima jajaran Polsek Balai. Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Balai, Bripka Hendriyansah, berserta anggotanya pun langsung meluncur ke lokasi. Dalam waktu singkat pun lorong dengan lebar sekitar 1 meteran tersebut pun padat dikerumuni warga.

Polisi pun langsung melakukan pengamanan lokasi. Termasuk meminta keterangan saksi yang mengetahui awalnya kematian korban.

Aseng diinterogasi. Namun Aseng tak banyak mengetahui penyebab kematian korban. Kepada polisi Aseng juga menyatakan dalam 2 hari ini memang korban mengaku sedang dalam kondisi demam. “Dua atau tiga hari kemarin memang dia ada sakit demam saja, tak ada sakit lain,” ucapnya lagi.

Beberapa saat kemudian, tim indentifikasi Polres Karimun pun tiba dan kemudian melakukan olah tempat kejadian. Polisi pun naik ke lantai dua rumah tersebut untuk memeriksa apakah ada kejanggalan-kejanggalan dalam kematian korban. Pantauan POSMETRO, di lantai dua rumah korban, tepatnya di bagian kamar korban terlihat berantakan. Namun diduga, berantakan itu karena Kev bermain sebelumnya.

Di empat anak tangga pertama dari lantai satu yang terbuat dari keramik halus warna putih tersebut terlihat ada sebercak air yang belum kering. Diduga kuat, korban terpeleset saat akan turun ke lantai dasar rumahnya.

Tidak terlihat ada bercak darah di empat anak tangga pertama. Begitu juga di anak tangga selanjutnya yang terbuat dari kayu dilapisi plastik warna merah dengan serat yang halus pula. Usai melakukan visum, polisi pun langsung memasukan jenazah korban ke dalam kantong jenazah dan selanjutnya membawa jenazah korban ke Puskesmas Balai untuk dilakukan visum luar.

Sementara di lokasi kejadian tidak ada yang mengetahui pasti penyebab kematian korban, meski jarak rumah korban dengan rumah tentangga hanya berbatasan tembok saja. “Tak ada keributan apa pun, dia – Merry – jarang bergaul jadi kita tak begitu tahu ada masalah apa dia,” ujar seorang wanita yang tinggal persis di samping rumahnya.

Hingga kini kematian korban masih dalam penyidikan polisi, tak ada satu pun saksi yang mengetahui pasti penyebab korban tewas. Pasalnya korban di rumah tersebut hanya tinggal berdua dengan anaknya yang masih berusia 4 tahun.

Sementara sang anak yang dicoba diwawancarai hanya mengatakan ibunya terjatuh, bahkan di wajahnya tak terlihat mimik sedih, lantaran ia belum mengerti kalau ibunya telah meninggal dunia. Korban diketahui mempunyai seorang suami di Singapura, namun didapati informasi sang suami pun telah meninggal sejak 1 tahun lebih lalu di Singapura. Tewasnya Merry, membuat Kev kini yatim piatu.

Diduga Terpeleset
Pihak polisi juga tidak menemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh Merry, wanita berusia 41 tahun. Hal ini setelah polisi melakukan kordinasi dengan pihak medis Puskesmas Balai, yang melakukan visum luar. “Dari hasil visum luar, tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban, yang ada hanya lebam mayat,” ujar Bripka Hendriyansah, Minggu (10/11).
Hendriyansah juga menjelaskan, Merry tercatat lahir di Medan, 25 November 1972. Ia tewas diduga karena terjatuh saat akan turun dari tangga. “Korban diduga kuat jatuh atau terpeleset dari tangga saat akan turun ke lantaran dasar rumahnya,” tambah Hendriyansah.

Sedangkan lebam mayat yang ditemukan di tubuh korban dari hasil visum diperkirakan sudah mencapai 6 jam saat dilakukan visum.

“Jadi diperkirakan korban tewas sekitar pukul 11.00 WIB,” tegasnya lagi. Sementara sampai Minggu kemarin, polisi masih mendalami penyebab pasti kematian korban, dengan memeriksa sejumlah saksi di antaranya Aseng dan Kev.

Sementara dari hasil pemeriksaan polisi, kondisi rumah korban dalam keadaan normal, artinya tidak ada tanda-tanda kejahatan seperti masuknya seseorang ke dalam rumah, hal ini melihat rumah korban yang terbilang memiliki keamanan yang cukup. Seluruh jendela dipasang tralis besi sehingga memperkecil adanya orang lain masuk, kemudian juga terlihat kondisi pintu juga dilapisi teralis dan saat diperiksa masih dalam keadan tertup dan tidak ada yang rusak. Hingga kini penyebab kematian wanita berambut sebahu dengan kulit putih yang pernah bekerja di tempat hiburan malam tersebut masih menyimpan misteri.

Kev Diasuh Aseng
Tewasnya Merry, menimbulkan dilema bagi polisi. Persoalannya, mendiang meninggalkan anak yang masih berumur 4 tahun. Polisi juga mengetahui, Merry yang sudah tujuh tahun tinggal di Karimun, tidak punya saudara di sana. Polisi kemudian meminta keluarga Aseng untuk merawatnya. Aseng sendiri, memang sebelumnya bertugas menjaga Kev. Aseng sendiri yang mendapatkan tawaran tersebut tak merasa keberatan, lantaran sudah lama mengasuh anaknya. “Kalau dia – Merry – berangkat ke Singapura yang ngasuh Kev saya,” ujar Aseng.

Sementara ketua RT 05 Syukri yang dikonfirmasi memastikan, korban memang tidak memiliki keluarga di Karimun.

“Dulu dia punya suami orang Singapura, tapi tak tahu sekarang, kata kawannya sudah meninggal di Singapura, jadi kini dia hanya tinggal sama anaknya saja,” ucap Syukri.

Syukri juga menambahkan, rumah yang ditempati korban dan anaknya, merupakan rumah milik mereka. “Sudah lama dibeli oleh dia, kalau tak salah saya, yang kita miris saat ini anaknya kini sendiri tak ada keluarga lain,” ujarnya Syukri.(posmetrobatam , ria)

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *