Pelabuhan Tikus Di Tanjungpinang Diindikasi Tempat penyelundupan Barang Luar

images
TANJUNGPINANG -Pelabuhan tikus yang ada  Kota Tanjungpinang diindikasi sebagai pintu masuk penyelundupan barang dari luar negeri. Tiap minggu, iring-iringan truk memasuki kawasan pelabuhan tersebut . Kedatangan truk ini seiring dengan menyandarnya beberapa kapal yang membawa barang selundupan dari Malaysia dan Singapura.

Barang-barang yang dimuat diantaranya elektronik, sembako dan daging. Kegiatan ini kerap terjadi pada malam hari, namun tidak pernah mendapat perhatian dari aparat kepolisian setempat.

Menurut warga, kegiatan bongkar muat di pelabuhan tikus ini sudah lama terjadi, dan selalu pada malam hari aktifitas bongkar muatnya. Tapi belum ada satu petugas terkait yang mampu menutup aktifitas bongkar muat terutama pihak polisi dan Pemko sendiri. Mereka  seolah-olah tidak melihat apa yang terjadi di pelabuhan tikus tersebut.

“Tau sih tau, cuma sengaja lupa tuli, karena yang melakukan aktifitas itu adalah empat pengusaha besar yang ada di Tanjungpinang,”katanya dengan nada ketus.

Keempat bos besar dibalik aksi penyelundupan yang merugikan negara dari sektor pajak dan kepabean yang sudah berjalan bertahun-tahun itu adalah Ac, Aa, Ak dan Ah. Keempat nama tersebut merupakan keturunan Tionghoa. Mereka selalu menggunakan jasa oknum aparat untuk memuluskan aksi ilegal tersebut.

Menurut warga yang enggan menyebutkan namanya itu, barang selundupan diangkut menggunakan kapal yang berkapasitas 50 ton. Kapal tersebut akan lego jangkar di tengah laut (beberapa meter dari bibir pantai) kemudian overship ke kapal pompong untuk dibawa ke pantai. Barang itu lalu diangkut menggunakan truk untuk dibawa ke gudang-gudang di sejumlah titik yang ada di Kota Tanjungpinang.

“Mereka main tengah malam mas, biasanya barang-barang itu datang tiap seminggu sekali dari Singapura atau Malaysia, nantinya ada sekitar 5 lori yang akan mengangkut barang-barang ini untuk disimpan di gudang, “ujar  Yanto , warga yang tinggal di sekitar pelabuhan tikus. ( adre )

Redaksi

About the Author: Redaksi

You May Also Like