Jalan Merdeka , Pusat Sejarah Tanjungpinang

TANJUNGPINANG- Asal muasal berdirinya Kota Tanjungpinang, bisa dilihat di Jalan Merdeka. Sejarah dimulai dengan kepindahan etnis Tionghoa yang mulai menempati kawasan tersebut sejak terjadi kebakaran di Senggarang pada 200 tahun silam.

Hingga kini, Jalan Merdeka masih dikenal dengan Cap Lak Keng, sebutan untuk 16 bangunan yang terdapat pada awal kawasan tersebut ditempati. Konon, bangunan tersebut, saat itu masih berupa  gudang-gudang yang menjadi tempat penyimpanan merica dan gambir yang menjadi komoditas yang sangat laku di Bandar Singapura.

Lokasi bangunan tersebut terletak persis di kawasan terminal angkot yang saat ini sudah dibatasi dengan pembatas permanen. Sedangkan setiap kegiatan masyarakat etnis Tionghoa, baik Imlek ataupun perayaan lain selalu dilaksanakan di Jalan Merdeka. Karena itu, bagi masyarakat Tionghoa di Tanjungpinang, kawasan tersebut selalu dikenang sebagai pusat sejarah.

“Jalan Merdeka saat ini terasa sempit akibat dibangunnya pembatas permanen yang memisahkan jalan menjadi dua arah, dan berbagai kegiatan yang kita gelar di sini jadi terasa tidak leluasa lagi. Padahal kawasan ini mempunyai sejarah yang panjang tentang keberadaan masyarakat etnis Tionghoa yang mendiami Kota Tanjungpinang dulunya,” kata Hengky Suryawan, Ketua Walubi Provinsi Kepri.

Menurut Hengky, pemerintah perlu memikirkan untuk menghidupkan kembali suasana Jalan Merdeka yang saat ini, jika malam hari terasa sepi. Selain itu, pagar pembatas jalan dua arah yang dibangun hendaknya dibuat bukan dalam bentuk permanen, agar jika ada kegiatan yang digelar di daerah tersebut, pagar pemabatas bisa dibuka.

“Sedihnya melihat kawasan ini sekarang. Setelah malam tiba, kawasan ini menjadi agak gelap, seperti kawasan mati. Lampu yang hidup pun tidak semuanya, karena banyak pemilik ruko di sini mengurangi jumlah lampu yang dinyalakan. Kondisinya akan semakin parah saat PLN menggilir kawasan ini dengan kebijakan pemadaman listriknya. Pemandangan ini kontras sekali jika dibandingkan dengan kondisi siang hari, karena kawasan ini termasuk salah satu tempat yang paling bersejarah di Tanjungpinang,” ujarnya.

Kondisi di Jalan Merdeka yang menurut Hengky mengalami perubahan adalah, toko-toko yang sudah banyak tutup sejak petang hari, termasuk deretan mobil yang diparkir di depan ruko. Memang, sebagian pemilik ruko memarkirkan kendaraan mereka di sini. Namun, tidak semua halaman ruko terlihat diisi oleh kendaraan roda empat. Tentu ada pula ruko yang hanya ditunggui oleh orang yang sengaja dibayar untuk itu, sehingga tak nampak ada mobil diparkir. Sedangkan si pemilik ruko ada juga yang menginap di rumah mereka di luar kawasan ruko.

“Melihat kenyataan tersebut, tidak ada salahnya jika Pemko Tanjungpinang kemudian merancang sebuah iven yang tidak saja dampaknya akan semakin menarik minat wisatawan datang berkunjung, tapi juga menyajikan sebuah hiburan wisata kuliner bagi mereka. Kawasan Jalan Merdeka dapat disulap dengan berbagai iven kuliner, dilengkapi hiburan ringan. Dalam hal ini, Dinas Pariwisata boleh lebih aktif bekerja sama dengan Dinas Perindustrian, untuk mengemas sebuah paket wisata kuliner atau semacam festival makanan,” ucapnya. (hk/36)

About the Author: Redaksi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *