banner iklan Pemerintah Kabupaten Bintan

Andi Arief: Di Balik Kardus dan Mahar ada Perbedaan Prinsip

Andi Arief ( Foto: @AndiArief_ )

 

Jakarta – Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief, menjelaskan soal pernyataannya mengenai jenderal kardus dan mahar (Rp 1 triliun) yang membuat riuh jagat politik republik ini. Itu terjadi dua hari menjelang pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden.

“Pertemuan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum Partai Demokrat) dengan Prabowo (Ketua Umum Partai Gerindra) lalu akhirnya riuh di dua hari menjelang pendaftaran Capres dan cawapres bukan soal pertarungan sepele, ada soal prinsip,” kata Andi kepada beritasatu.com, Senin (13/8).

Ia menjelaskan bahwa, SBY berprinsip rakyat di atas segalanya. “Karena itu dasar membangun koalisi adalah mendengarkan keinginan rakyat yang direkam survey,” katanya.

Ia tak menafikan soal Logistik, tetapi sifatnya melengkapi perjuangan mewujudkan keinginan rakyat. “Prinsip ini pada awalnya Prabowo setuju dan akan meninggalkan paradigma lama yang dianut Prabowo dalam berperang di pemilu yaitu logistik yang bisa mengatur kehendak rakyat,” katanya.

Ia mengatakan, Partai Demokrat hampir berhasil menawarkan cara mengutamakan kehendak rakyat itu. “Dengan cara Demokrat ini, maka ancaman bentrok politik identitas bisa dihindari, karena dasar perjuangannya menyatukan harapan rakyat atas dasar mengubah nasibnya dan memperbaiki siatem yang bisa mengubah nasib rakyat. Bukan sebaliknya memanfaatkan situasi rakyat yang diametral dalam politik identitas,” katanya.

Jika peperangan elektoral dimenangkan, Andi menambahkan, maka negara lebih otonom dari para pemilik modal, sehingga punya keleluasaan besar mengambil kebijakan-kebijakan yang menguntungkan rakyat.

“Sedangkan pemilik modal harus ikut mendukung negara dalam mengambil kebijakan-kebijakan yang menguntungkan rakyat,” katanya.

Namun, kata Andi, Prabowo berubah sikap di dua hari menjelang pendaftaran Capres dan Cawapres. “Memang yang tertangkap publik adalah soal jendral kardus dan soal mahar ke PAN dan PKS. Tetapi sebenernya itu bentuk kekecewaan saya pada Prabowo yang mengambil jalan Logistik lebih penting ketimbang kehendak rakyat,” katanya.

Menurut Andi, pemilik modal diberi karpet merah untuk kembali berperan yang nantinya membuat negara ini tidak otonom terhadap pemilik modal.

Padahal, kata Andi, inilah prinsip-prinsip itukah yang ditolak oleh rakyat sejak 1998. “Ini juga yang menjadi protes para cerdik cendikia terhadap jalan ekonomi Pak Jokowi 4 tahun (Presiden Jokowi) terakhir soal bagaimana negara bisa lebih otonom terhadap keinginan pemilik modal,” katanya.

“Kalau mau jujur Pak Jokowi ketika umumkan Ma’ruf Amin seperti ingin menjawab bahwa Ia akan memilih jalan berbeda di periode kedua untuk tidak bisa dengan mudah diatur pasar. Kita tunggu saja jalan mana yang akan menang nantinya.”

Sedangkan Partai Demokrat, kata Andi, akan tetap mempertahankan prinsip berbeda dalam memenangkan pasangan Prabowo-Sandi.

“Jalan berbeda dalam memenangkan peperangan ini bukan semata untuk memenangkan Prabowo-Sandi, tetapi juga ingin mempertahankan kekuatan elektoral Partai Demokrat agar pada saatnya nanti prinsip perjuangan Partai Demokrat mengutamakan rakyat akan kembali bisa menjadi faktor dominan, mudah-mudahan nanti di 2019,” katanya.

Nurlis E Meuko / NE

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment

*

code