banner iklan Pemerintah Kabupaten Bintan

Tinggalkan “Politik Prostitutif”

Dedi Mulyadi, calon wakil gubernur Jawa Barat. ( Foto: istimewa )

Jakarta – Seluruh elemen masyarakat, terutama para elite, diharapkan mau meninggalkan praktik-praktik politik prostitutif. Pola politik seperti itu hanya berorientasi kepada aspek jangka pendek dan miskin nilai. Seharusnya, politik bermuatan moral, etika, dan logika kebangsaan yang luhur. Poin ini harus ditempuh dalam rangka mewujudkan orientasi politik yang terhormat, yakni peradaban sebuah bangsa.

“Kalau dalam politik hanya berniat mendulang suara, maka itu politik prostitutif. Semuanya jangka pendek. Visinya serba pendek, silaturahminya serba pendek. Seharusnya, kita membangun politik ideologis,” kata calon wakil gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Kang Dedi) di Jakarta, Rabu (30/5).

Bupati Purwakarta dua periode itu menegaskan, politik prostitutif sangat merugikan pemilih. Hal ini lantaran masyarakat hanya disapa dan berinteraksi pada saat momentum menjelang pemilihan berlangsung. Sementara, pendalaman terhadap gagasan dan program menjadi terabaikan. “Rakyat menjadi rugi, disapa, dimanfaatkan untuk kemudian ditinggalkan. Politik yang sebenarnya itu berorientasi pada ideologi, gagasan, dan program. Karena itu, output-nya harus kesejahteraan rakyat, bukan kepentingan sesaat,” ujar Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat itu.

Kang Dedi mengaku sudah berkeliling menyapa masyarakat selama 15 tahun. Hasilnya, pria yang lekat dengan iket Sunda itu telah memiliki cetak biru berbagai permasalahan masyarakat berikut solusi penyelesaiannya. Solusi tersebut tinggal diterjemahkan ke dalam format kebijakan sebagai pejabat daerah. “Sudah 15 tahun saya berkeliling. Kalau bulan Ramadan, ditemani Kiai Jujun Junaedi. Beliau saksi hidup, bagaimana saya menemukan berbagai masalah dan solusinya,” ungkapnya.

Menurut Dedi, kondisi politik saat ini sudah seperti menanam kelapa. Umumnya, kelapa pasti menjadi salah satu varian menu berbuka dengan berbagai resep penyajian. Namun, masyarakat belum tentu mengenal atau mengetahui petani yang menanam pohon kelapa yang dinikmatinya saat ini. “Kita berbuka dengan es kelapa. Pertanyaannya, siapa yang menanam kelapa yang kita konsumsi? Mungkin dia sudah berumur tua atau bahkan sudah meninggal. Jadi, orang tua dulu menanam dengan ikhlas pohon kelapa itu untuk anak cucunya,” katanya.

Saat ini, jarang ditemukan sosok yang ikhlas menanam kebaikan untuk digunakan oleh generasi selanjutnya. Dedi berpandangan, jika kondisi ini terus terjadi, dia khawatir tujuan kesejahteraan tidak akan pernah terwujud.

“Hari ini, orang hanya ingin menanam yang instan saja untuk jangka pendek. Politik instan, semua instan. Kalau seperti ini, politik tidak akan pernah terasah karena tidak pernah mencerahkan warga bangsa. Tujuan kesejahteraan tidak akan terwujud,” ujarnya.

Dia mencontohkan, Rasulullah SAW merupakan sosok yang harus dijadikan panutan dalam konteks ini. Sosok nomor wahid paling berpengaruh di dunia itu menuntun umat membangun peradaban dalam segala sendi kehidupan. Dalam spektrum keindonesiaan, sosok Dwitunggal Soekarno-Hatta, menurut Dedi, juga merupakan tauladan.

Piranti kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan modal yang diberikan oleh keduanya untuk segenap anak bangsa. “Pertanyaannya, sudahkah hari ini kita mengadopsi nilai perjuangan yang mereka anut dalam gerakan politik kita?” ujarnya.

Fana Suparman / AO

Sumber: Suara Pembaruan

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment

*

code