banner iklan Pemerintah Kabupaten Bintan

Korban Bom Thamrin Sebut Hukuman Mati Aman Abdurrahaman Wajar

Terdakwa kasus dugaan teror bom Thamrin Aman Abdurrahman alias Oman Rochman (tengah) usai menjalani sidang dengan agenda pembacaan tuntutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat (18/5). Aman Abdurrahman dituntut hukuman mati untuk perbuatan terorisme yaitu serangan bom Gereja Oikumene di Samarinda pada 2016, serangan di Jalan MH Thamrin Jakarta pada 2016, dan bom di Terminal Kampung Melayu di Jakarta pada 2017, serta dua penembakan terhadap polisi di Medan dan Bima pada 2017 yang mengakibatkan hilangnya banyak nyawa. SP/Joanito De Saojoao.

Jakarta- Ipda Denny Maheiu, korban ledakan bom Thamrin, mengatakan tuntutan hukuman mati dari jaksa penuntut umum (JPU) terhadap terdakwa teroris Aman Abdurrahman sangat wajar.

“Sangat wajar. Orang itu kan menuntut atas dasar barang bukti dan fakta-fakta di lapangan yang ada. Kalau dia gerakkan sampai kejadian di beberapa wilayah itu, korban banyak, ya wajar (dihukum mati),” ujar Denny, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (18/5).

Dikatakan, peristiwa bom Thamrin memang sudah berlalu, tetapi hatinya masih belum terima.

“Saya sebagai korban ibaratnya yang berlalu sudah berlalu. Cuma hati saya masih tidak menerima. Karena apa, saya ini tidak berbuat jahat kepada mereka. Sekarang, Presiden penguasa tertinggi berantas sampai akar-akarnya. Saya ikut dengan beliau. Saya bawahan beliau,” ungkapnya.

Ia menyampaikan, dirinya mengalami kerusakan di bagian kepala, mengalami tuli, luka pada tangan, dan betis akibat peristiwa bom Thamrin. Menyoal hak dana kompensasi dari negara, Denny menyampaikan, dana kompensasi tidak wajar karena tidak sebanding dengan yang dialaminya.

“Kompensasinya sangat tidak wajar. Karena itu berdasarkan penilaian LPSK, segala macam, kita terima saja. Mengajukan kemarin Rp 520 juta, kemudian jatuhnya cuma Rp 100 juta sekian. Ya tidak apa-apalah,” tandasnya.

Bayu Marhaenjati / BW

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment

*

code