banner iklan Pemerintah Kabupaten Bintan

Dubes Tantowi: Sudah Waktunya RI Berperan di Asia Pasifik

Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya (kanan). (Istimewa)

Jakarta – Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, menyatakan sudah saatnya Indonesia berperan lebih aktif di negara-negara kawasan Asia Pasifik.

Hal itu diungkapkan setelah ikut serta dalam “48th Pacific Leaders Forum” yang berlangsung dari 4-8 September lalu, di Apia, Samoa. Bersama delegasi Indonesia lainnya, Tantowi Yahya melakukan beberapa pertemuan bilateral dengan pimpinan negara-negara Pasifik. Dari pertemuan tersebut, terbuka berbagai peluang yang bisa dikerjasamakan dengan 16 negara di luar Australia dan Selandia Baru. “Peluang ini perlu kita tindaklanjuti,” kata Tantowi Yahya dalam pesannya diterima di jakarta, Minggu (10/9).

Menurut Tantowi, setidaknya ada dua alasan penguatan peran Indonesia di kawasan Asia Pasifik. Pertama, perluasan pasar bagi beberapa produk Indonesia. Hal ini dikaitkan dengan keinginan Indonesia masuk di pasar-pasar non-tradisional. “Alasan kedua, dalam rangka keterlibatan yang selama ini kurang digarap secara serius di Asia Pasifik,” jelas Tantowi.

Sebagai sesama dari rumpun Melanesia dan Polynesia, kata dia, Indonesia dan negara-negara di Pasifik mempunyai banyak kesamaan. Misalnya, mengkomsumsi makanan yang sama seperti beras, singkong, talas, ubi, sukun, kelapa, dan sebagainya.

“Karena kesamaan tersebut, negara-negara ini membutuhkan bantuan kita dalam hal pengolahan bahan-bahan tersebut menjadi berbagai produk seperti di negara kita,” jelasnya.

Dalam waktu dekat, bekerja sama dengan United Nation Development Program (UNDP), Indonesia akan mendatangkan beberapa ahli masak dan ahli gizi dari Indonesia. Mereka akan berbagi pengetahuan tentang pembuatan aneka makanan dari bahan-bahan yang kaya gizi dan higienis.

Secara khusus, Tantowi juga berbicara soal negara Samoa. Menurutnya, secara kultural, rakyat Indonesia mempunyai kedekatan dengan masyarakat di Pasifik. Fakta ini harus mampu dikapitalisasi dalam rangka mendekatkan diri ke mereka.

“Mereka selama ini seperti jauh di mata jauh pula di hati. Kita harus ubah menjadi dekat di mata dan dekat di hati,” katanya.

Hal itu kita dilakukan melalui beragam kerja sama, khususnya perdagangan dan budaya. Dalam konteks perdagangan, Samoa bisa dijadikan sebagai pintu masuk sekaligus hub distribusi berbagai produk Indonesia di Pasifik. Hal itu dimulai dari bumbu, tekstil, furniture sampai dengan otomotif.

Ada dua alasan kuat Samoa patut dijadikan hub. Pertama, sebelum 2022, Samoa akan terkoneksi secara digital dengan 18 negara di Pasifik. Sebelum 2020, Apia, kota di Samoa, akan menjadi hub transportasi udara ke kawasan Pasifik. Kedua, saling pengertian yang sudah tercipta dan terbina selama ini.

Dari hasil pembicaraan lebih lanjut Tantowi dengan beberapa menteri Samoa selama berada di Apia, dapat disimpulkan Samoa bersedia menjadi pintu masuk dan hub perdagangan langsung Indonesia dengan negara-negara Pasifik. Saat ini mereka sangat membutuhkan para ahli Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari Indonesia. Khususnya untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang penggunaan TIK sebagai basis perdagangan, pemerintahan, dan demokrasi.

“Sebagai negara yang hidup dari pariwisata, pertanian dan perikanan yang rentan terhadap perubahan iklim, Samoa dan negara-negara di Pasifik sangat membutuhkan bantuan kita dalam bidang eco-tourism, pertanian, perikanan dan perubahan iklim termasuk didalamnya penanganan sampah plastik di laut,” jelasnya.

Oleh: Markus Junianto Sihaloho / WBP |
Sumber: BeritaSatu.com

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment

*

code