banner iklan Pemerintah Kabupaten Bintan

Peredaran Uang Selama Lebaran di Jakarta Diprediksi Rp 42 Triliun

Jakarta – Bank Indonesia Perwakilan DKI Jakarta mencatat pada periode Ramadan umumnya terjadi peningkatan kebutuhan uang tunai di tengah-tengah masyarakat. Diprediksikan, peredaran uang saat Lebaran di Jakarta akan mencapai sekitar Rp 42,7 triliun atau sebesar 25,5 persen dari total perputaran uang di Indonesia saat Ramadan.

Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan DKI Jakarta, Doni Primanto Joewono mengatakan posisi uang kartal yang diedarkan (UYD) pada akhir Ramadan akan terus mengalami peningkatan dengan rata-rata kenaikan selama 10 tahun terakhir, sebesar 13,9 persen setahun.

Posisi UYD pada hari Selasa (13/6) sebesar Rp 633,9 triliun. Posisi UYD tersebut meningkat sebesar Rp 50,5 triliun atau 8,6 persen dibandingkan posisi sebelum Ramadhan 2017 sebesar Rp 583,7 triliun (tanggal 26 Mei 2017).

“Jadi naik sekitar 14,4 persen atau sebesar Rp 146,1 triliun. Dari total jumlah peredaran uang kartal tersebut, di antaranya 25,5 persen beredar di Jakarta. Kedua tertinggi setelah Pulau Jawa sebesar 34,6 persen,” kata Doni, Jumat (16/5).

Sementara, di Pulau Sumatera, peredaran uang periode Ramadan mencapai 20,60 persen, lalu kawasan Sulampua (Sulawesi, maluku, dan Papua) dan Balinusra (Bali dan Nusa Tenggara) sebesar 12,2 persen serta Pulau Kalimantan sebesar 7,1 persen.

Yang paling banyak dicari dalam peredaran uang jelang Ramadan ini oleh warga adalah pecahan RP 20.000 yakni sebanyak 93 persen. Sedangkan uang pecahan kecil Rp 10.000 sebanyak 7 persen.

Kenaikan kebutuhan uang saat jelang Ramadan, lanjut Doni, dikarenakan jumlah hari libur yang lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2016 menjadi sembilan hari yang bertepatan dengan libur sekolah. Kemudian tingginya minat masyarakat terhadap uang rupiah.

“Belum lagi adanya pembayaran gaji dan THR, termasuk gaji ke-14. Begitu juga dengan adanya penambahan titik tempat penukaran uang dan frekuensi penukaran, baik yang dilakukan oleh BI maupun kerja sama dengan perbankan atau pihak lain,” ujarnya.

Kendati uang beredar tinggi, Doni menilai inflasi DKI Jakarta pergerakan harga barang dan jasa pada bulan lalu relatif terkendali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Doni menyebutkan laju inflasi Jakarta pada Juni 2015 sebesar 0,57 persen.

Ia memprediksi, inflasi Jakarta berpotensi meningkat pada bulan Juni, yang merupakan bulan puasa dan Lebaran. Karena biasanya, perayaan Hari Idul Fitri turut menyumbang terjadinya kenaikan inflasi.

Tetapi, kenaikan inflasi Jakarta diprediksikan tidak akan melebihi angka satu persen. Ia optimistis akan berada dibawah satu persen.

“Kami optimistis di bawah satu persen. Moga-moga bisa 0,8 persen. BI melihat di bawah satu persen berarti berhasil,” terangnya.

Sumber: BeritaSatu.com

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment

*

code