banner iklan Pemerintah Kabupaten Bintan

Ini Konsep Hunian Layak Versi Ahok-Djarot

Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (kiri) dan Djarot Saiful Hidayat (kanan) berjabat tangan saat menghadiri acara penggalangan dana kampanye Ahok-Djarot di Jakarta, Minggu (27/11). Acara yang digelar Relawan Badja Dharma tersebut untuk mendukung kampanye pasangan Ahok-Djarot, yakni setiap relawan memberikan dana Rp5 juta bagi yang duduk semeja dengan Ahok dan Djarot serta Rp2,5 juta bagi yang duduk di meja lainnya. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww/16.

Jakarta – Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat mengatakan ada dua bentuk program utama pasangan calon (paslon) nomor urut dua, Ahok-Djarot untuk penyediaan hunian layak bagi warga Jakarta.

Pertama, membangun rumah susun (rusun) sebanyak-banyaknya seiring meningkatkan kualitas sumber daya sosial sehingga rusun bisa setara dengan apartemen.

“Perumahan di Jakarta kita upayakan vertikal, karena keterbatasan lahan. Bagi warga yang ingin lahan luas tentu harus dipinggir seperti Bodetabek. Tapi kalau tinggal di Jakarta, kami akan menyediakan hunian yang setara dengan apartemen,” kata Djarot saat menghadiri peresmian kantor sekretariat Banteng Muda Indonesia (BMI) di Jalan Cianjur, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (30/3).

Kedua, melakukan revitalisasi kawasan permukiman kumuh dan padat penduduk. Selama ini, pihaknya telah mengerjakan bedah rumah. Program tersebut akan diintensifkan lagi dengan membentuk dan menggerakkan pasukan merah.

“Kemarin bedah rumah ditangani Bazis dan Biro Pemerintahan. Kalau sekarang kita libatkan RT, W dan kelompok masyarakat,” ujarnya.

Selain alasan keterbatasan lahan untuk membangun rumah tapak, alasan lainnya juga berpengaruh terhadap penyediaan ruang terbuka hijau (RTH). Sehingga RTH yang ada di Jakarta bisa ditingkatkan.

“Idealnya, satu kota itu mempunyai 30 persen RTH dari luas kota itu;. Baik RTH yang disediakan oleh pemerintah maupun yang menjadi kewajiban masyarakatnya. Misal rumah yang baik itu punya halaman karena bisa menjadi daerah resapan air,” jelasnya.

Didalam RTH tersebut, lanjutnya, ada ruang terbuka biru seperti embung atau waduk untuk daerah resapan air. Kalau embung itu tidak sanggup lagi menangkap air, maka bisa dialirkan ke sungai.

“Jadi dalam membangun rusun, kita harus pikirkan RTH dan RTB. Kalau kita pikirkan hunian yang layak, kita juga harus pikirkan penyediaan RTH dan RTB. Kalau kita bangun rumah tapak, maka akan memakan banyak lahan,” paparnya.

Lenny Tristia Tambun/CAH

BeritaSatu.com

Share

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment

*

code