banner iklan Pemerintah Kabupaten Bintan

Jembatan Gugus nyaris Ambruk

DSCN0913TANJUNGPINANG – (bt) Wisata hutan bakau diterletak dikawasan  Sei Carang nasibnya sangat ngiris , jembatan gugus yang terbuat dari kayu itu nyaris roboh karena sudah lapuk.Saat mengunjungi lokasi itu, sudah terlihat jelas kondisi papan kayu yang rusak. Hal tersebut juga dibenarkan Safri pengunjung situs cagar budaya hutan bakau di kawasan saat itu, kemarin.Ia mengatakan, kondisi jembatan yang mengantarkan pengunjung berkeliling kasawan tersebut sudah rawan roboh dan takut membahayakan pengunjung bila tidak berhati-hati.

“Seram sekarang melihat kondisi jembatan kayunya. Kalau tidak hati-hati, takut jatuh ke air laut,” imbuhnya.

Padahal tujuannya datang ke lokasi untuk melihat pemandangan serta hutan bakau yang diperkiarakan ada 300 jenis tanaman bakau.
Tetapi jembatan kayu yang dibangun sejak empat tahun lalu sudah tidak sebagus dulu lagi. Sehingga ia tidak berani melangkahkan kakinya pergi mengelilingi lokasi.

Hal senada juga dikatakan Ramli, salah seorang penduduk dan juga mantan penjaga yang tinggal di sekitar lokasi. Ia menilai, kondisi wisata di kawasan hutan bakau di kawasan Sei Carang sudah memperihatinkan.

Sebab sudah banyak tiang jembatan yang lapuk bahkan rusak parah sehingga menyulitkan pengunjung melintasi kawasan.Selain kondisi jembatan yang kurang bagus ditambah kawasan di sekitar yang sudah terlihat kurang terawat ditambah kondisi lingkungan yang kotor.

“Inikah tempat wisata yang dibuat pemerintah? Harusnya pemerintah fokus merawat agar pengunjung tak kecewa datang ke lokasi ini,” ujarnya bernada kecewa.

Diceritakannya, dulu ia sempat meminta kepada pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang bantuan peralatan yang bertujuan memelihara kawasan ini. Tetapi sampai ia berenti bekerja alat-alat tersebut tak kunjung datang.

Ia juga mengingatkan Dinas Pariwisata Kota Tanjungpinang yang akan mengadakan kegiatan Oktober di kawasan tersebut agar membenahinya karena mendatangkan tamu dari berbagai daerah bahkan luar negeri. Jangan sampai menyuguhkan lokasi kawasan tapak sejarah seperti saat ini dan membahayakan tamu.

“Jangan sampai tamu yang datang dari luar daerah melihat gambar hutan bakau di Sei Carang bagus dan indah, kenyataannya malah memperihatikan seperti saat ini,” tuturnya.

Menanggapi ini, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang, Metya Yulianti, mengatakan, saat ini pemerintah hanya mampu menyediakan gaji Rp 2 juta per bulan bagi 2 orang penjaga kawasan itu. Sedangkan untuk perawatan dibebankan di Dinas Pariwisata.

“Apalagi saat ini penjaga yang dipekerjakan tidak seperti dulu yang menjaga kawasan tersebut 24 jam. Saat ini penjaga yang kami pekerjakan hanya bekerja sampai sore hari. Setelah itu mereka pulang ke rumah,” tuturnya.

Hal ini juga dinilai membuat kawasan tersebut kurang bersih serta kurang terawat. Harapannya, tahun depan dengan bergabungnya Dinas Kebudayaan ke Dinas Pariwisata diharapkan ada tambahan anggaran untuk membayar gaji penjaga di kawasan tersebut. (dlp)

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment

*

code